Asap Jerebu Kepung Langit Kota Pekanbaru

Administrator Administrator
Asap Jerebu Kepung Langit Kota Pekanbaru
Ket Foto: Faisal Sikumbang (kiri) dan kondisi kabut asap di langit Kota Pekanbaru (kanan).
Langit Pekanbaru kembali kelabu. Bukan mendung, tapi asap. Dan bukan pertama kali. Data terbaru hingga Minggu (23/08/26) pukul 23.00 WIB, mencatat 2.945 titik panas di Pulau Sumatera. Riau menyumbang 491 titik, atau 16,7 persen dari total. Angka itu menempatkan Riau di posisi kedua setelah Sumatera Selatan yang mencapai 1.429 titik.

KEBAKARAN yang terjadi tidak menyebar merata. Ia menumpuk di tempat yang sama, dari tahun ke tahun. Kabupaten Pelalawan memimpin dengan 239 titik panas. Disusul Indragiri Hilir dengan 166 titik.

Dua kabupaten ini saja sudah menyumbang lebih dari 82 persen hotspot di Riau. Sisanya terpencar di Bengkalis 30 titik, Indragiri Hulu 13, Rokan Hulu 12, Kampar 9, Rokan Hilir 8, Siak 7, Kuantan Singingi 4, dan Dumai 3 titik.

Artinya, peta karhutla Riau tidak pernah berubah. Pelalawan dan Inhil tetap jadi "dapur" api. Dan pemerintah tetap bersikap seperti baru pertama kali melihatnya.

Forecaster On Duty BMKG, Gita Dewi S, menyebut total 2.945 hotspot itu hasil pemantauan terbaru. Tapi data tanpa tindakan hanya jadi pengumuman rutin. Cuaca kering datang, lahan gambut terbakar, asap naik, warga sesak napas. Siklus itu berulang sejak 2015.

Dampaknya langsung terasa di kota. Jerebu mengepung Pekanbaru sejak pagi Senin (24/08/26). Warga kembali memakai masker, anak sekolah mulai batuk-batuk, dan kualitas udara turun.

Untungnya, kata General Manager Bandara SSK II Pekanbaru Achmad, jarak pandang pagi ini masih 2.200 hingga 2.700 meter. Masih jauh di atas batas minimum 800-1.000 meter. Penerbangan belum terganggu.

" Alhamdulillah, penerbangan sampai pagi ini masih berjalan dengan normal, jarak pandang masih aman," ujarnya kepada media di Pekanbaru.

Kalimat "alhamdulillah masih aman" itu yang paling menyakitkan. Kita bersyukur karena bandara belum tutup. Bukan karena hutan tidak terbakar. Bukan karena warga tidak keracunan asap. Standar kita sudah turun sejauh itu.

Setiap Agustus data hotspot keluar. Setiap September BNPB dan TNI turun. Setiap Oktober hujan datang, api padam. Lalu Januari kita lupa. Izin konsesi tetap keluar, kanal gambut tetap kering, penegakan hukum jalan di tempat.

491 titik panas di Riau bukan bencana alam. Ini bencana administrasi. Kebakaran gambut tidak meledak dalam semalam. Ia dimulai dari pembukaan lahan, dari pengabaian, dari sanksi yang tidak pernah membuat jera.

Selama Pelalawan dan Inhil terus jadi penyumbang terbesar, selama aparat hanya jadi pemadam dan bukan pencegah, maka tahun depan di tanggal yang sama kita akan menulis berita yang sama persis. Hanya angkanya yang ganti.

Pekanbaru boleh belum lumpuh hari ini. Tapi paru-paru warganya sudah lumpuh sejak lama.

Ditulis Oleh

Faisal Sikumbang
Pemimpin Redaksi KupasBerita.Com

Penulis
: Administrator
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html