SPG Seksi Warnai Dunia Prostitusi di Dumai

Administrator Administrator
SPG Seksi Warnai Dunia Prostitusi di Dumai
Ilustrasi

Keberadaan Sales Promotion Girl (SPG) sangat dibutuhkan perusahaan untuk mempromosikan produk mereka. Selama ini trik memasarkan atau mengenalkan produk dengan menggunakan jasa wanita-wanita cantik terbukti cukup ampuh.

PERUSAHAAN pengguna jasa SPG biasanya memiliki standar tertentu dalam perekrutan para wanita. Selain memiliki kemampuan dalam meyakinkan pelanggan, syarat tidak kalah penting lainnya yakni berwajah cantik dan bertubuh molek. Bagi para SPG sendiri, pekerjaan yang mereka lakoni bisa menambah pertemanan atau relasi. Mereka setiap hari bertemu dengan berbagai tipe orang. Apakah orang kaya, baik hati, judes dan kadang bahkan nakal.

Banyaknya bertemu dan berkomunikasi dengan beragam orang itu bisa menjadi peluang baru untuk mendapatkan uang tambahan. Mulai dari tawaran makan malam, sekadar kopi darat hingga berujung pada urusan ranjang. Kalau sudah begini, biasanya tarif yang dipatok pun beragam. Mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Memang tidak seluruh SPG yang ikut mewarnai dunia prostitusi. Kebanyakan yang terjun ke dunia itu, alasannya selalu terkait masalah ekonomi. Diluar jam kerja sebagai SPG, mereka bebas untuk bertemu siapa saja. Termasuk dengan pembeli produk yang mereka jual. Tentunya setelah terlebih dahulu saling bertukar nomor telepon genggam, dan janjian.

Salah seorang SPG yang datang dari luar Kota Dumai, sebut saja namanya Nina mengaku sering melakoni kerja sampingan itu. Apalagi diluar jam kerja, mereka bebas untuk melakukan apa saja. Hal terpenting target penjualan produknya tercapai.

“ Kejar target dulu bang. Ini masih tersisa 10 kotak lagi, abang ambil semua ya. Nanti abang telpon saja, atau jemput ke hotel tempat saya menginap,” ujar Nina sambil menyebut nama salah satu hotel di Dumai.

Nina tidak cuma sendiri. Malam itu ada 3 SPG yang ikut jalan bersamanya. Seluruhnya masih berusia muda dengan tampilan menggoda. Mengenakan baju terusan tanpa lengan dan rok jauh di atas lutut. Tidak tampak rasa canggung saat mereka berhadapan dengan laki-laki. Malah sesekali mereka melontarkan gurauan yang makin menghangatkan suasana malam.

“ Jangan hanya punya Nina yang dibeli, punya kami sekalian bang. Suruh teman abang itu beli juga. Biar nanti kita bisa sama-sama keluar untuk happy,” ujar mereka manja.

Selain membuat janji dengan pembeli, juga ada yang menggunakan fasilitas media sosial miliknya. Usai bekerja mereka mencari “pelanggan” melalui aplikasi MiChat dan lainnya. Setelah negoisasi harga dan cocok, mereka memberitahu kamar hotel tempatnya menginap. Harga yang dipatok biasanya sudah termasuk biaya kamar.

“ Kalau untuk 1 jam 400 ribu rupiah. Tapi kalau sampai pagi tarifnya 1,2 juta rupiah bang. Itu sudah termasuk kamar dan full servis,” ungkap SPG dengan gambar profil wanita berkulit putih dan bertubuh sintal itu.

Cerita miring mengenai para SPG sudah bukan rahasia umum. Profesi sebagai SPG kerap dikaitkan dengan hal negatif. Namun, jumlah SPG plus-plus itu jauh lebih sedikit dibanding mereka yang mengedepankan profesionalisme dalam menjalankan pekerjaannya.***

Penulis
: Megi Alfajrin

Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers kupasberita.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online www.kupasberita.com Hubungi kami: redaksi@kupasberita.com
Berita Terkait
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html