Suasana malam di Dumai sama seperti malam-malam sebelumnya, namun ada hal menarik dimana beberapa tempat terlihat ramai kendaraan terparkir seolah adanya aktifitas tidak biasa hingga dini hari. Sesekali terlihat wanita berpakaian seksi keluar masuk bersama para pria "hidung belang'.
Ternyata kabar terkait maraknya praktik prostitusi dan hiburan malam yang memfasilitasi wanita tuna susila di Kota Idaman ini bukan isapan jempol belaka. Dari beberapa pantauan di lapangan di dapati beberapa tempat memang menyediakan hiburan plus-plus. Anehnya, meski sudah berlangsung dari tahun-ketahun hal ini seolah tidak terhentikan.
Kendati tidak dilakukan secara terbuka, namun bisnis esek-esek terselubung ini lumayan marak terjadi. Meski Dumai dikenal identik dengan kultur budaya Melayu, sangat menentang keras segala bentuk praktek maksiat, ternyata para pengusaha masih leluasa meraup cuan dari berbagai bisnis hiburan malam.
Menelisik para wanita tuna susila yang eksis di beberapa tempat hiburan malam ini ternyata memanfaatkan jaringan pertemanan, hingga jasa online untuk mendapatkan pelanggan mereka. Bisnis prostitusi melalui online ini lumayan sulit untuk dilacak. Apalagi mereka tidak terpusat satu tempat. Sebagian besar menginap di kos-kosan, hotel kelas melati hingga hotel berbintang. Ironisnya, juga ada yang tinggal bersama orang tuanya.
Rata-rata mereka yang menawarkan jasanya via online ini menggunakan aplikasi daring. Ada tiga aplikasi dating yang cukup terkenal di kalangan penikmat dan penyedia jasa. Masing-masingnya yaitu MiChat, WeChat dan Beetalk yang cukup mudah diunduh di Play Store maupun App Store karena bukan aplikasi berbayar.
Disamping itu, para kupu-kupu malam tersebut juga di fasilitasi oleh para pengusaha tempat hiburan dengan fasilitas PUB dan KTV yang tersebar di kawasan perkotaan. Meski sebahagian ada yang memang bekerja hanya untuk menghibur dan melayani makan dan minum para pelanggan namun ada juga yang memanfaatkan mendapatkan tambahan penghasilan.
Bagi wanita yang sediakan oleh tempat hiburan biasa di sebut Ladies Companion (LC). Seiring dengan pertumbuhan rumah-rumah hiburan karaoke, keberadaan ladies escort atau ladies companion tidak bisa dipisahkan. Mereka dibutuhkan sebagai teman pengunjung pria yang menjadi tamu rumah hiburan karaoke. Lapangan kerja bagi para perempuan yang dibuka oleh para pengelola rumah hiburan karaoke itu terus saja terisi peminat. Bahkan meskipun oleh sebagian kalangan pekerjaan sebagai LC kerap dipandang sebelah mata.
Bagi pengunjung karaoke, keberadaan LC yang rata-rata berusia muda menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi jika mereka ramah, pintar memilihkan lagu yang disukai para tamu, dan memiliki suara merdu. Jika puas dengan pelayanan yang diberikan, para tamu tidak sungkan memberikan tips dengan nominal besar.
" Keberadaan LC penting sekali. Banyak tamu yang datang karena sudah kenal dengan LC di sini. Tapi tentu kita juga mengutamakan kenyamanan room, audio dan video yang bagus serta minuman yang berkualitas," ujar salah seorang pengelola hiburan malam di Dumai.
Tak sulit mencari tempat karaoke yang menyediakan wanita pemandu lagu (LC) nan seksi di Dumai. Pemandu lagu biasanya bertarif mulai Rp100.000 hingga Rp150.000 per jam. Jika tempat makin elite, tarif LC juga makin mahal. Aturan minimal booking juga tidak sama. Ada yang 2 jam hingga 3 jam, dan hanya untuk menemani bernyanyi. Tarif itu belum termasuk tips.
Rata-rata LC di kawasan hiburan Dumai sekitar Rp250 untuk dua jam. Ada juga dibawah itu tergantung tempatnya. Selama berada dalam ruangan karaoke dilarang keras untuk melakukan hubungan intim. Mereka hanya dibenarkan sebatas menuangkan minuman, mencarikan lagu sesuai keinginan tamu serta menemani bernyanyi.
Kalaupun ada yang berlanjut untuk hubungan lebih jauh, biasanya setelah usai jam kerja mereka. Itu juga tergantung kesepakatan antara tamu dengan pendamping lagu. Hal ini juga tidak mudah, rata-rata yang bisa jika sudah kenal cukup lama.
"Biasanya mereka penasaran, dan ngajak lanjut. Tapi saya lihat-lihat orangnya juga. Kalau sudah saling kenal baru saya mau," ujar salah seorang LC sambil tersenyum.
Baground para wanita penghibur tersebut tidak semata hanya berprofesi sebagai tuna susila melainkan ada juga yang bekerja sebagai tenaga honorer di perkantoran. Tidak heran dunia prostitusi kerap dijadikan pilihan untuk memperkaya diri. Apalagi jika sering dapat pelanggan dengan uang "tak berseri". Dalam waktu singkat, ekonomi dan gaya hidupnya bakal jauh meningkat. Tidak sedikit wanita lemah iman yang tergiur. Mereka berasal dari beragam latar belakang, pekerja salon, SPG hingga tenaga honorer.
Sebagai kota Pelabuhan dikenal identik dengan hiburan malam. Sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kota Dumai sepertinya juga tidak bisa dipisahkan dengan dunia malam tersebut. Bisnis hiburan tumbuh dengan pesat, mulai dari karaoke hingga diskotik.
Menikmati Dunia malam di Kota Dumai tidak kalah menarik dibanding daerah lainnya. Apalagi lokasinya yang berada di pusat kota sangat mudah untuk dijangkau. Kawasan Jalan Hasanuddin atau lebih dikenal dengan nama Jalan Ombak hingga Jalan Kelakap Tujuh cukup banyak menyediakan tempat hiburan malam.
Meski Walikota Dumai dalam janji politik saat kampanye pernah mengungkapkan akan memberantas hal tersebut namun hingga hari ini hampir satu tahun kepemimpinan H Paisal tidak juga kunjung terealisasi. Bahkan, di beberapa tempat terlihat hiburan malam semakin menggeliat dan menjamur.
Ungkapan Walikota itu tersebar belakangan di media sosial, ramai warga menyaksikan janji kampanye kepala daerah terpilih hasil Pilkada 2020 itu. Dia mengungkapkan di Dumai sangat luar biasa terjadi kemaksiatan dan perjudian hingga kepada masyarakat dia berjanji bakal membenahi kondisi tersebut.
Dari penelusuran media dilapangan hiburan malam tidak saja diwarnai oleh wanita penghibur, namun erat hubungannya dengan predaran narkotika hingga prostitusi terselubung.***