Tolak Keras Kenaikan BBM, Ketum Partai Ummat Minta Pemerintah Lebih Inovatif

Administrator Administrator
Tolak Keras Kenaikan BBM, Ketum Partai Ummat Minta Pemerintah Lebih Inovatif
Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi menolak keras kebijakan pemerintah yang makin mencekik rakyat akibat kebaikan BBM
Pemerintah Republik Indonesia diminta lebih berempati pada kesulitan yang sudah berlangsung 2,5 tahun sejak pandemi. Ekonomi rakyat kecil baru beranjak bersemi. Namun langsung dihajar dengan kenaikan harga BBM yang cukup tinggi.

KETUA Umum DPP Partai Ummat, Ridho Rahmadi meminta pemerintah agar lebih inovatif dengan meningkatkan pemberantasan korupsi serta memangkas ekonomi biaya tinggi. Bukan malah menaikkan harga BBM karena makin memberatkan masyarakat yang sedang berjuang keluar dari krisis pandemi.

" Partai Ummat menolak keras kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diputuskan pemerintah sejak hari Sabtu, 3 September 2022. Ini jelas bukan kebijakan yang berpihak pada rakyat," tegas Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, Senin (05/09/22).

Ridho dikutip dari serambiislam.com mengatakan kenaikan harga BBM menunjukkan kegagalan pemerintahan Jokowi dalam mengelola ekonomi. Kenaikan harga BBM sudah pasti memicu kenaikan harga-harga barang lainnya.

“ Kenaikan harga BBM ini menimbulkan inflasi yang diperkirakan bisa mencapai 8 persen," ujar Ridho Rahmadi.

Ironisnya, dipaparkan Ridho Rahmadi bahwa inflasi menyebabkan harga-harga semakin tinggi tetapi penghasilan tetap. Dengan jumlah penghasilan yang sama, kebutuhan yang bisa dibeli semakin sedikit akibat inflasi.

“ Di masyarakat bawah, kenaikan harga seribu atau dua ribu rupiah itu akan sangat terasa dan memberatkan.”

Ridho juga mempertanyakan kebijakan Menkeu Sri Mulyani yang terus-menerus menghajar kemampuan ekonomi rakyat. Rakyat belum bisa paham mengapa di Indonesia harga BBM harus dinaikkan. Padahal harga minyak dunia sedang turun.

Ridho mengutip data harga minyak mentah berjangka pada pengiriman Oktober yaitu West Texas Intermediate (WTI) yang turun menjadi 86,61 dolar Amerika per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka Brent juga turun menjadi 92,36 dolar Amerika per barel di London ICE Futures Exchange.

Yang paling dekat yang bisa dijadikan perbandingan, kata Ridho, adalah negeri tetangga Malaysia yang menurunkan harga minyak.

Pada bulan Agustus Malaysia baru saja menurunkan harga BBM tipe RON97 sebesar 5 sen yang semula berharga 4,35 ringgit menjadi 4,30 ringgit. Pemerintah Malaysia mengatakan penurunan harga ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga minyak global.

Partai Ummat mengeritik keras pemerintahan Jokowi yang terlihat hanya mau enaknya sendiri. Tujuannya membantu keuangan negara, namun pada saat yang sama terus-menerus mencekik rakyat yang sudah lama dalam kesulitan.

“ Seharusnya pemerintah lebih kreatif dalam mencari sumber pemasukan APBN. Jangan cuma bisanya menaikkan pajak dan menaikkan harga-harga barang yang jelas sangat memberatkan ekonomi rakyat. Ujung-ujungnya rakyat juga yang menjadi korban,” kata Ridho.

Partai Ummat mencatat rincian kenaikan harga BBM sebagai berikut. Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, solar subsidi dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter, dan pertamax nonsubsidi dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. **
Penulis
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html