Ruang Fiskal Seluas Lapangan Futsal

Administrator Administrator
Ruang Fiskal Seluas Lapangan Futsal
Agung Marsudi
Bayangkan perekonomian negara kita seperti bermain bola di lapangan futsal. Ukurannya terbatas, garis batasnya jelas, setiap gerakan terlihat, setiap kesalahan terbaca. Itulah ruang fiskal kita, sempit, penuh tekanan, namun di atasnya berjalan pertandingan yang menentukan nasib dua ratus delapan puluh juta jiwa.

KITA Asik bermain di lapangan kecil, bukan lapangan sepak bola yang luas, terbentang jauh, memberi ruang berbelok, berlari, bernapas. Ruang fiskal kita sempit. Pendapatan negara tumbuh lambat sementara kebutuhan melesat cepat.

Hutang menumpuk di sisi satu, kewajiban di sisi lain. Setiap rupiah yang dipakai di satu tempat, berarti dikurangi dari tempat lain. Garis batasnya ketat: defisit, plafon utang, kewajiban cicilan-tak boleh dilanggar.

Di lapangan futsal, pemain harus banyak bergerak, dan berlari. Di lapangan yang sempit ini, pemainnya harus bekerja dua kali lebih keras Pemerintah menjadi penjaga gawang, pengatur pertahanan dan sekaligus penyerang. Mengurus pengeluaran sekaligus mencari pemasukan.

Rakyat adalah bola yang ditendang, dipindahkan, didorong, dikejar, kadang terpental ke pinggir lapangan. Para pengusaha, berusaha bergerak di ruang yang makin sempit, menghindari pajak yang naik, biaya yang bertambah, ketidakpastian yang mengintai.

Sedang daerah berjuang dengan jatah yang makin kecil, tranfer ke daerah yang ditahan, sementara tuntutan pembangunan makin besar.

" Di lapangan futsal, tidak ada yang berdiri diam. Semua berlari sepanjang pertandingan. Begitu juga ekonomi kita, tak ada yang berhenti, tetapi sayang tak semua sampai ke gawang."

Karena lapangannya sempit, setiap keputusan berdampak langsung. Jika satu pemain salah langkah, seluruh tim terdesak. Jika satu sisi lemah, lawan langsung rebut kesempatan.

Bola ekonomi di lapangan futsal memang tak pernah diam. Ketika harga naik, bola memantul keras ke arah rakyat kecil. Ketika pajak bertambah, bola ditendang ke arah pengusaha dan pekerja. Ketika utang dibayar, bola ditarik ke luar lapangan, dan tidak kembali ke permainan. Ketika proyek besar dibangun, bola terkunci di satu sudut, sementara sisi lain lapangan kosong melompong.

" Bola itu seharusnya berpindah dari satu ke yang lain, menyebar, hidup. Tetapi di lapangan ini, seringkali bola tertahan di kaki yang sama terlalu lama."

Yang menyakitkan, di lapangan yang sempit, jika bola dikuasai sedikit orang, sisanya hanya berlari mengejar tanpa pernah menyentuhnya.

Banyak yang bertanya, mengapa tidak diperlebar lapangannya?. Mengapa tidak dibuka ruang yang lebih luas?.

Jawabannya, sumber pendapatan negara masih bergantung pada sedikit sumber pajak yang belum menyentuh semua. Kekayaan alam yang diambil lalu habis. Kebocoran di sepanjang garis, kebocoran anggaran, korupsi, pengeluaran yang tidak tepat sasaran. Beban masa lalu, cicilan utang tahun-tahun pemerintahan sebelumnya. Ketidakmerataan kekayaan yang seharusnya memperluas lapangan, justru terkumpul di satu sisi, sehingga sisi lain makin sempit.

" Lapangan tidak akan melebar hanya dengan mengucapkan janji, pidato dan orasi. Lapangan melebar ketika setiap orang mendapat tempat, dan setiap rupiah bekerja untuk semua."

Di lapangan futsal, kemenangan tidak datang dari berlari cepat sendirian. Ia datang dari kerja sama yang rapat. Setiap pemain tahu perannya, tidak berebut bola, saling mengisi ruang yang kosong.

Gerakan cepat dan tepat. Tidak ada waktu berputar-putar, keputusan harus diambil cepat. Menjaga bola tetap berputar, tidak dikuasai satu orang, disebarkan ke mana peluang terbuka. Menjaga pertahanan sekuat serangan itu tidak asik mengejar gol, tapi lupa menjaga gawang sendiri.

" Di ruang yang sempit, kebijaksanaan lebih berharga daripada kekuatan."

Ruang fiskal kita memang seluas lapangan futsal hari ini. Tetapi pertandingan belum selesai. Garis batas bisa digeser, bukan dengan melanggar aturan melainkan dengan menutup kebocoran agar setiap rupiah kembali ke permainan.

Membuka lapangan agar lebih banyak pemain bisa ikut berbagi bola. Menjaga agar lapangan tetap utuh untuk generasi berikutnya.

Itulah makna sejati ekonomi, bukan seberapa luas lapangan yang kita miliki hari ini, melainkan seberapa cerdas kita bermain dan seberapa adil kita membagi ruang itu untuk semua. Itulah esensi ekonomi Pancasila.

Bola ada di kaki kita. Permainan masih berlanjut. Selanjutnya Purbaya ke luar lapangan, Suahasil Nazara masuk sebagai pengganti, sesuai pesanan oligarki.


Solo, 14 September 2026
Ditulis Oleh

Agung Marsudi
Founder Duri Institute
Penulis
: Administrator
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html