Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat yang juga pengamat politik internasional, Teguh Santosa menegaskan Indonesia butuh sosok pemimpin tangguh dan proaktif guna menjawab berbagai tantangan internasional. Sosok seperti itu dimiliki oleh Calon Presiden (Capres) nomor urut 1, Anies Baswedan.
JURNALIS Senior, Teguh Santosa saat peluncuran buku "Anies Baswedan The Rising Star" karya Samsul Muarif membeberkan kualifikasi pemimpin yang dibutuhkan masyarakat dunia saat ini adalah sosok yang bisa menjadi pemain tengah. Anies dinilai memenuhi kriteria itu lantaran masuk dalam daftar 100 intelektual publik dunia.
" Orang hanya bisa jadi pemain tengah kalau dia punya nilai sehingga dia tidak bisa ditarik ke atas, tidak bisa ditarik ke bawah," tegas Teguh yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).
Dosen Hubungan Luar Negeri Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini menambahkan, dengan situasi seperti sekarang Presiden Indonesia ke depan tidak boleh sembarangan.
" Orang seperti apa yang dibutuhkan dunia untuk bisa bermain di situasi seperti itu, ya bukan orang yang kaleng-kaleng. Tapi orang yang punya karakter, orang yang punya rekam jejak, orang yang punya rekam karya, orang yang mendapat pengakuan, karena itulah yang dibutuhkan," papar Teguh Santosa.
Teguh menambahkan dari buku "Anies Baswedan The Rising Star" juga bisa dilihat sejumlah media internasional seperti The Conversation.com, CNN, Washington Post, dan The Sydney Morning Herald menunjukkan citra politik Anies yang sangat positif di mata mayoritas masyarakat.
" Anies ini terlambat jadi presiden, walau sesungguhnya tidak ada kata terlambat," kata Teguh.
Teguh berandai-andai, jika Anies tak terlambat menjadi presiden atau menjadi Presiden RI pada 2019 lalu, mungkin Ukraina tak akan diserang Rusia atau mungkin yang menyatukan Iran dan Arab Saudi bukan Cina, tetapi Indonesia.
" Kalau sekarang Indonesia jadi pemimpin G-20 atau ASEAN itu hanya giliran. Baru hebat misalnya kalau pertemuan dialog Kim Jong-un dan Donald Trump terjadi di Indonesia," jelasnya.
Pada sisi lain, peluncuran buku "Anies Baswedan The Rising Star" karya Samsul Muarif menjadi semacam pintu masuk untuk melihat lebih dalam kiprah Anies Baswedan di dunia internasional.
Buku yang diluncurkan di Markas Tim Pemenangan Nasional Anies-Muhaimin (Timnas Amin), Jalan Diponegoro 10, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2024), merekam pandangan media dan wartawan serta akademisi dunia mengenai pikiran dan tindakan Anies dalam merespon berbagai peristiwa di dunia. Baik berupa konflik kawasan dan global, hingga di era pandemi.
Dalam peluncuran, buku tersebut dibedah oleh tiga tokoh, Co-kapten Timnas Amin Tom Lembong, Deputi Media dan Komunikasi Timnas Amin Saur Hutabarat, dan pengamat media dan politik internasional Teguh Santosa. Bedah buku dipandu politisi Nasdem Teguh Juwarno.
Dalam pandangannya, Saur mengatakan bahwa sosok Anies Baswedan merupakan capres yang paling berpikiran internasional dibanding capres lain, baik Prabowo Subianto maupun Ganjar Pranowo.
" Salah satunya adalah karena Anies banyak mengenyam studi di luar negeri sehingga bercakap bahasa Inggris lebih baik dari pasangan lain," kata Saur Hutabarat.
Kemudian, lanjut Saur, semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies seringkali melakukan perjalanan dinas ke luar negeri untuk mempelajari banyak hal.
Saur membeberkan, Anies selama ini juga merespons pertanyaan dari media internasional dengan melihat politik luar negeri yang harus mempunyai nilai, termasuk politik bebas aktif Indonesia.
Saat ini, sambung Saur, isu internasional yang sering dibawakan media massa, yakni menyangkut hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok. "Ini pertanyaan paling serius, pemerintahan sekarang lebih cenderung ke Tiongkok ketimbang negara lain. Padahal Anies selalu menekankan solusi dialog dengan berbasis warga dunia.”
Mengenai masalah Laut Cina Selatan, misalnya, berbagai kepentingan sejumlah pihak pasti ada, maka jelaslah yang penting berdialog dengan yang punya kepentingan di sana. "Dan tetap berpegang pada menjadikan bangsa ini sebagai warga dunia. Termasuk pentingnya Spirit Bandung, menularkan spirit kemerdekaan ke seluruh dunia," jelas Saur.
Sementara Co-kapten Timnas Amin, Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong, mengatakan salah satu program Anies-Muhaimin adalah perubahan di bidang diplomasi agar Indonesia tidak sekadar hadir. Dia juga menyoroti praktik diplomasi saat ini lebih berupa transaksional berdasar hitungan untung rugi.
" Diplomasi kini bergeser bukan berbasis nilai dan norma-norma, nurani. Untuk mengambil pendekatan itu harus tahu dulu apa nilai atau norma kita. Prinsip pertama Pak Anies dalam diplomasi adalah lebih menjunjung tinggi nyawa manusia di atas segala-galanya," ujar Lembong.
Menurut Lembong, jika ada benturan antara nyawa dan industri, misalnya, maka yang harus mengalah adalah industri.
" Contoh polusi, bisa merusak atau meghilangkan nyawa itu sudah gak benar dan itu melanggar nilai yang kita junjung bahwa nyawa di atas segala-galanya,” jelas Lembong. "Ini sebenarnya sesuai Sila Kedua Pancasila."
Lembong melanjutkan, prinsip kedua yang akan diterapkan Anies adalah keadilan. Hal ini sejalan dengan asas keadilan pada Sila Kelima Pancasila.
" Misalnya Ukrania diserang Rusia itu bisa disebut adil atau tidak atau apakah itu sesuai dengan norma atau nilai kita pegang? Atau penindasan rakyat Palestina oleh Israel selama puluhan tahun, apakah itu adil, apa itu fair? Prinsip itu yang dipegang teguh Pak Anies dalam semua formulasi kebijakannya," tegas Lembong.(***)
Penulis
: Faisal Sikumbang/Rilis