36 Tahun Setelah Ayah Lengser, Ferdinand Marcos Junior Terpilih Jadi Presiden Filipina

Administrator Administrator
36 Tahun Setelah Ayah Lengser, Ferdinand Marcos Junior Terpilih Jadi Presiden Filipina
Ferdinand Marcos Jr

Ferdinand Marcos Junior, putra dari bekas diktator Filipina, Ferdinand Marcos terpilih jadi Preaiden Filipina.

FERDINAND Marcos pada era 90-an adalah pemimpin diktator di Filipina. Dirinya menjabat dari30 Desember1965hingga25 Februari1986.

Selama kepemimpinannya, korupsi merajalela di Filipina. Pembungkaman dan pembunuhan lawan politik, diantaranya pemimpin oposisiBenigno Aquino, Jr pada tahun1983.

Pada tahun 1986, Ferdinand Marcos diturunkan dalam sebuah revolusi damai yang terjadi di Manila dan kota-kota lain di Filipina. Janda Benigno Aquino, Corazon Aquino didampuk menjadi Presiden Filipina menggantikan Ferdinand Marcos.

Bersama istrinya Imelda Marcos, Ferdinand Marcos melarikan diri ke Hawaii sampai akhir hayatnya.

Setelah beberapa dekade, 36 tahun setelah dilengserkan, putranya Ferdinand Marcos Junior kembali ke Istana Kepresidenan Malacanang.

Dengan lebih dari 95 persen suara telah dihitung, Marcos Jr unggul suara dengan mendapatkan sekitar 30 juta dukungan. Angka itu lebih besar dua kali lipat dari lawan terkuatnya, Wakil Presiden Leni Robredo, yang meraup sekitar 14 juta suara.

Banyak aktivis, pastor gereja Katolik, hingga politikus oposisi khawatir kemenangan Marcos Jr hanya akan mengembalikan pemerintahan otoriter seperti sang ayah berkuasa lagi di Filipina

Meski begitu, sosok Marcos Jr nyatanya tetap diminati masyarakat Filipina bahkan unggul telak dalam pemungutan suara pilpres.

Presiden Pusat Hukum Internasional (Centerlaw), Joel Ruiz Butuyan, dalam opininya di Inquirer dilansir dari CNNIndonesia.com menyampaikan bahwa 'kebangkitan' dinasti Marcos ini dipengaruhi oleh kekuatan media sosial.

Sejak Marcos Jr kalah dalam pemilihan wakil presiden pada 2016, dinasti Marcos dan pendukung mereka berupaya memperbaiki citra Marcos Jr di media sosial, seperti TikTok dan YouTube.

"Mitos terkait Marcos beredar secara online lewat video pendek, dokumenter singkat, dan penulisan singkat," tulis Butuyan.

"Video singkat yang menarik dan melodramatis, pun dokumenter terkait mitos Marcos telah secara efektif menggambarkan dinasti Marcos sebagai korban dibandingkan pelaku sebenarnya," lanjutnya.

Selain itu, Buyutan menilai kegagalan besar dari sistem edukasi Filipina juga turut ikut serta dalam kepopuleran Marcos Jr.

"Sistem edukasi kami gagal mengajarkan generasi muda kami terkait kekerasan besar yang dilakukan di negara dan masyarakat kami dalam kediktatoran Marcos. Sangat memprihatinkan saat mengetahui beberapa buku yang digunakan sekolah anak-anak kami menutupi kekerasan ini," tuturnya.

"Jelas saja banyak generasi muda Filipina yang tidak tahu bagaimana penderitaan negara kami kala tahun-tahun tersebut [ketika Marcos berkuasa].".(*)

Penulis
: Administrator
Editor
: RIDHA
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html