"Kita sedang menghadapi krisis kemanusiaan di negara ini sejak delapan tahun terakhir dan sekarang kondisinya menjadi jauh lebih buruk," kata dia.
"Kami melihat ada lebih dari 120.000 orang yang telah kabur ke negara tetangga. Dan menurut saya, sambutan yang mereka terima dari komunitas lokal, dari otoritas lokal luar biasa," ujarnya lagi.
Clements menambahkan, ada antrian di sejumlah penyeberangan perbatasan negara. Mereka ingin menyeberang ke negara tetangga Moldova. Dia memperkirakan, gelombang pengungsi dari Ukrainamasih akan terus berlanjut.
Hingga saat ini, Rusia masih terus melancarkan serangan ke Ukraina. Militer Ukrainaberusaha menahan pasukan Rusia dengan meledakkan jembatan yang menghubungkan Ibu Kota Kyiv dengan Crimea, yang telah dikuasai Rusia.
Serangan bertubi-tubi dari Rusia sejak Kamis (24/02/2022) telah menyebabkan sedikitnya 198 korban jiwa, 33 di antaranya adalah anak-anak. Meski demikian, Moskow membantah bahwa mereka menyasar warga sipil dan hanya menargetkan objek militer.(*)
Sumber
: CNBCIndonesia.com