Pernah tidak tinggal di dekat pabrik. Pagi buka jendela, yang masuk bukan udara segar, tapi debu. Malam mau tidur, yang terdengar bukan jangkrik, tapi bising mesin. Hujan turun, air sumur jadi keruh. Itulah derita warga yang rumahnya berdekatan dengan Kawasan Industri Dumai. Dilatarbelakangi keprihatinan tersebut, Kantor Redaksi Bersama (KRB) Poros Bumi Ayu dan Yayasan Bumi Alam Hijau menggelar Seminar Lingkungan dengan sponsor utama PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai, Kamis (22/10/26) siang di Lantai II Grand Zuri Hotel.
KEPALA Kantor Redaksi Bersama (KRB), Muhammad Syahrul Aidi, AMd menegaskan Seminar Lingkungan yang ditaja bersama Yayasan Bumi Alam Hijau berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan lingkungan di daerah pemukiman yang berdekatan dengan kawasan industri.
" Seminar ini lahir dari keprihatinan. Prihatin melihat warga yang tinggal dekat industri, yang kalau ada kebocoran, mereka yang pertama kena. Yang kalau ada bising, mereka yang pertama tidak bisa tidur. Perkembangan industri harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar," ujar M Syahrul Aidi kepada sejumlah media usai acara seminar dengan tema "Mewujudkan Lingkungan Permukiman Sehat di Sekitar Kawasan Industri", Kamis (22/10/26) tadi siang.
Menurut Sahrul, industri boleh maju. Apalagi Dumai memang Kota Industri. Tapi majunya harus seiring dengan dua hal, yakni patuh terhadap regulasi dan peduli masyarakat sekitar. Tidak bisa industri maju, regulasi dilanggar, dan warga sekitar dibiarkan batuk-batuk.
" Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa media tidak hanya berperan dalam ruang publikasi, tetapi juga memiliki kontribusi dalam edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya terkait persoalan lingkungan,” ujar M Sahrul Aidi.
Syahrul menjelaskan, KRB Poros Bumi Ayu memiliki visi bersama untuk memberikan kontribusi terhadap kepentingan publik, termasuk mendorong perhatian terhadap isu-isu lingkungan.
Aktivitas industri berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari kebisingan, pencemaran udara, hingga pencemaran air apabila pengelolaan lingkungan tidak dilakukan secara optimal.
" Namun kami tidak ingin hanya mencari kekurangan pihak tertentu. Persoalan lingkungan harus dilihat berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Sederhananya, apabila seluruh pelaku industri mematuhi regulasi dan pengawasan berjalan dengan baik, tentu persoalan lingkungan dapat diminimalkan,” tegasnya.
Pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaksanaan regulasi lingkungan, dikatakan Syahrul harus benar-benar dijalankan sehingga tidak ada celah yang dimanfaatkan untuk mengabaikan kewajiban perlindungan lingkungan.
" Aturan lingkungan sudah lengkap. Tapi kalau tidak dijalankan, ada celah untuk abaikan kewajiban," ungkap Syahrul.
Menurut Syahrul, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri perlu mendapatkan perhatian serius. Terutama saat menghadapi dampak aktivitas industri yang berpotensi memengaruhi kualitas udara, air, dan kesehatan.
" Masyarakat sekitar industri perlu perhatian serius. Jangan dianggap angin lalu. Kalau udara mereka tercemar, air mereka keruh, kesehatan mereka terganggu, siapa yang harus bertanggungjawab," tegas Syahrul.
Syahrul mengingatkan pentingnya tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata, termasuk dukungan di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.
" Ini yang sering dilupakan perusahaan. CSR bukan cuma bagi-bagi sembako setahun sekali. Tapi kontribusi nyata di kesehatan, pendidikan, pelestarian lingkungan," ujar Syahrul mengingatkan.
Terakhir disampaikan Syahrul, seminar lingkungan tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah, khususnya DLH Dumai dalam meningkatkan pengawasan serta memperkuat penegakan hukum di bidang lingkungan hidup serta bisa mendorong pelaku usaha agar semakin memperhatikan dampak aktivitas industri terhadap lingkungan permukiman dan kehidupan masyarakat sekitar.
Seminar yang juga dirangkaikan dengan launching KRB Poros Bumi Ayu ini menghadirkan tiga narasumber, yakni praktisi, akademisi, sekaligus pakar lingkungan Dr Elviriadi, SPi, MSi dan Wahyu Ratna, SKM, MKes dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dumai serta Section Head Environment PT Pertamina Patra Niaga Rachmat Harris Firmansyah.(*)