Cerita Duka Warga Batusangkar Tewas Tertimbun Longsor di Lintas Riau-Sumbar

Administrator Administrator
Cerita Duka Warga Batusangkar Tewas Tertimbun Longsor di Lintas Riau-Sumbar
Jasad korban saat hendak dimandikan masyarakat di Mushalla Musafir Koto Alam Sumbar. Foto:Faisal Sikumbang
Cerita menyesakkan dada tersisa pasca musibah longsor yang terjadi di sepanjang Jalan Lintas Sumbar-Riau, sejak Selasa (26/12/23) dinihari kemarin. Danil (46) warga Gombak Batusangkar, korban terseret dan tertimbun lumpur longsor di Koto Alam Lima Puluh Koto, sebelum tewas sempat minta tolong. Namun, longsor susulan akhirnya menimbun seluruh tubuh korban.

PUTUSNYA Akses jalan Riau-Sumbar sejak, Selasa (26/12/23) dinihari hingga pukul 16.30 WIB sore kemarin akibat banjir di daerah Pangkalan serta longsor yang terjadi di belasan titik daerah Koto Alam ternyata juga menyisakan cerita duka.

Danil (46) warga Batusangkar yang mobilnya juga terjebak macet dan ikut membersihkan jalan yang tertimbun tanah tewas setelah tubuhnya terseret longsor susulan.

Sebelumnya korban bersama warga setempat berusaha memindahkan kayu yang membelintang jalan. Selain itu menggunakan alat seadanya, mereka mencangkul tanah yang menutup badan jalan. Saat itu, aliran air bercampur tanah kuning cukup deras menuju tebing tempat mereka berdiri. Kedalaman jurang kurang lebih sekitar 50 meter.

Ketika berupaya membersihkan batang tumbang dan timbunan longsor yang menutup badan jalan, tiba-tiba terjadi longsor susulan. Korban dan warga setempat langsung melompat menghindar. Namun malang, tubuh korban terseret dan masuk ke dalam jurang.

Pekik suara dalam kondisi panik terdengar. Masyarakat setempat yang berada di lokasi berusaha memberi pertolongan. Namun karena medannya lumayan berat, untuk turun ke bawah kondisinya sangat sulit. Beberapa saat kemudian, salah seorang warga turun menggunakan tali.

Sesampainya di bawah, korban masih hidup dengan kondisi bagian paha ke bawah terbenam lumpur. Dengan suara lirih, korban berulang kali minta tolong.

" Pak, tolong selamatkan saya. Selamatkan saya pak. Saya tak mau mati disini," ujar warga yang turun ke dalam jurang menirukan ucapan korban.

" Saya bilang kepadanya, pasti saya bantu. Ini saya sudah di bawah untuk menolong," tambah warga tersebut.

Tubuh korban kemudian ditarik untuk mengeluarkannya dari timbunan lumpur. Sebelah kakinya sudah berhasil terangkat dalam posisi terlipat. Sedangkan kaki satunya lagi masih terbenam. Saat tubuhnya ingin di ikat dengan tali, tiba-tiba tanah bergerak dan longsor susulan kembali terjadi.

Kali ini korban tidak terselamatkan lagi. Warga yang menolong terpaksa melepaskan tali agar tidak ikut terseret. Apalagi tanah yang longsor tidak hanya beecampur air, namun juga bebatuan.

" Saya harus melepaskan tali, kalau tidak saya pasti ikut terseret," ujarnya dengan wajah trauma.

Setelah hampir 1 jam melakukan pencarian, tubuh korban akhirnya berhasil ditemukan warga dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Dibantu alat berat milik perusahaan, jasad korban kemudian diangkat dari dalam jurang. Baju yang dipakai korban sudah terlepas dari tubuhnya. Hanya menyisakan celana pendek yang dipakai sebelumnya.

Jasad korban selanjutnya di bawa dengan mobil ambulance ke Mushalla Musafir di dekat Tugu Khatulistiwa atau selama ini dikenal dengan nama Telur Gajah. Tubuhnya yang berlumur lumpur dibersihkan warga. Kemudian dibalut dengan kain panjang yang disumbangkan masyarakat setempat.

Setelah berdiskusi dengan putra korban, diputuskan untuk membawa jasad korban ke Batusangkar. Hanya saja saat itu kondisi jalan menuju Kelok 9 masih belum bisa dilewati. Banyak titik jalan yang juga tertimbun longsor dan terhalang batang tumbang.

Sekitar pukul 16.00 WIB, warga menghubungi pihak perusahaan penambangan batu di Koto Alam untuk menurunkan alat beratnya. Atas permintaan warga satu unit alat berat datang dan berjalan di depan mobil ambulance untuk membersihkan jalan.

Mobil milik korban dititipkan di salah satu rumah warga. Sementara putranya yang masih berusia sekitar 16 tahun itu ikut bersama mobil ambulance mendampingi jasad ayahnya.

" Rencananya kami mau ke Ujung Batu menjemput Jawi (Sapi,red). Saya baru kali ini ikut mendampingi ayah. Biasanya cuma menjaga kandang. Tadi sudah hubungi bunda juga," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.(***)
Penulis
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html