Bentrok yang terjadi di Dayun, Siak antara pekerja kebun milik petani sawit Dasrin dengan pekerja PT Duta Swakarya Indah (PT DSI), Minggu (14/5/2023) telah melukai tiga orang korban.
KAPOLRES Siak AKBP Ronald Sumaja membenarkan adanya peristiwa bentrok tersebut. Pihaknya akan menindak tegas pelaku kerusuhan itu.
Sebab, kata Kapolres sudah sering mengingatkan kedua pihak, antara pekerja kebun Dasrin dan tim keamanan PT DSI.
"Kami akan tindak tegas, tindak pidana yang terjadi secara profesional," tegas AKBP Ronald Sumaja.
Terkait situasi di TKP, kata AKBP Ronald telah mengirimkan beberapa personel untuk meredam kedua pihak. Dan saat ini masyarakat juga sudah bisa melewati jalan lintas Siak-Dayun dengan aman.
"Yang jelas kami sudah berupaya preventif atau himbauan dan mediasi. Itu kami lakukan berkali-kali, pengamanan juga telah kita lakukan," kata dia.
Ia pun sangat menyesalkan bentrokan yang terjadi sehingga menjatuhkan korban berdarah.
"Kedua belah pihak tetap bersikeras dengan dalilnya masing-masing," pungkasnya.
Dasrin mengatakan, satu orang pekerjanya mengalami luka yang sangat serius di bagian kepala dan telah dirujuk ke RSUD Tengku Rafian Siak.
"Tiga orang pekerja kebun saya dianiaya oleh suruhan PT DSI. Salahsatunya terkena kampak, satu orang lagi kena tusuk di bawah matanya dan satu orang lagi dibagian tubuhnya kena senjata tajam (sajam)," kata Dasrin, seperti dikutip dari riauaktual.
Dasrin menjelaskan, kejadian tersebut bermula saat mengeluarkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang telah dimuat didalam mobil mobil colt diesel.
Tiba-tiba kata Dasrin pekerja kebunnya tersebut dicegat oleh pasukan pengamanan PT DSI.
"Truk kami sewa tapi tak bisa keluar, pekerja kami sudah marah karena pendapatannya dari penjualan sawit, jadi kami kawal truk keluar bersama -sama, pekerja kami tidak menggunakan senjata tajam seperti orang-orang suruhan PT DSI tersebut," terangnya.
Waktu kejadian, Dasrin bergegas ke lokasi tersebut untuk bersama-sama dengan pekerja kebunnya.
Di lokasi kata Dasrin, pihaknya sudah memohon kepada suruhan PT DSI tersebut untuk dibukakan portal pintu masuk dan keluar kebunnya yang diblok.
Namun suruhan PT DSI tersebut kata Dasrin tidak menggubrisnya. Justru mereka mempersiapkan senjata tajam, seperti parang, pisau, ketapel bahkan memakai tameng.
"Saya sudah ngomong baik -baik, keperluan saya cuma bagaimana buah bisa dikeluarkan. Tetapi dicegat sama preman-preman suruhan DSI itu di jalan pos jaga yang saya bangun sendiri," kata Dasrin.
Padahal portal tersebut, kata dia dibangun di atas lahannya dengan alas hak Sertifikat Hak Milik (SHM).
Anehnya lagi, pihak Dasrin terusir dari pos jaganya sendiri yang kemudian dikuasai pihak PT DSI milik Mery.
Tidak terima dengan perlakuan DSI, Dasrin tetap mengangkut buah sawitnya ke luar untuk dijual ke PKS.
"Saya kawal langsung truk pengakut TBS dan beberapa orang pekerja saya. Sesampai di portal, langsung dihadang suruhan PT DSI dengan keras," ungkapnya.
Disitulah kedua pihak mulai cekcok dan bentrokan pun tidak terhindarkan. Dijelaskan Dasrin juga, kedua pihak baku pukul dan saling serang.
"Bahayanya, pengaman PT DSI ini tampak lebih siap dengan tameng rotan, parang dan ketapel mobifikasi. Sedangkan pihak saya hanya menggunakan kayu dan memanfaatkan batu-batu jalan," terangnya.***