Walikota Dumai Sebaiknya Tidak Asal Bicara

Administrator Administrator
Walikota Dumai Sebaiknya Tidak Asal Bicara
Faisal Sikumbang

Video viral Walikota Dumai, H Paisal, SKM, MARS yang menuduh forum pembela nasib buruh sebagai penyangak akhirnya menuai kisruh. Walikota Dumai dianggap telah melakukan pelecehan dan menebar ujaran kebencian.

DALAM video berdurasi 0.26 detik yang beredar itu, Walikota Dumai tampak memotong pembicaraan Kadisnaker Dumai yang tengah menjelaskan masalah sengketa buruh dengan pihak perusahaan. Dengan nada tinggi, walikota tiba-tiba menuding Forum Aksi Peduli Tenaga Kerja Lokal (FAP-Tekal) sebagai Penyangak.

Tudingan itu sontak mengundang riak. Forum pembela nasib buruh, FAP-Tekal kemudian membawa kasus itu ke ranah hukum dan membuat laporan kepada pihak kepolisian. Pernyataan walikota itu sangat mereka sesalkan.

Kata Penyangak itu sendiri berkonotasi negatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada sekitar 25 arti kata penyangak. Diantaranya Pencoleng, Pencuri, Cabul, Amoral, Asusila, Carut, Keji, Nista, Porno dan lainnya.


Sebagai sahabat, media ini ingin mengingatkan. Walikota Dumai sebaiknya tidak asal bicara. Karena sesungguhnya, pemimpin tempat rakyatnya bercermin. Kasus "rapor merah" kepemimpinan di negeri ini, kerap terjadi akibat memerahnya nilai dari perkataan para pemimpin.

Dikutip dari artikel Universitas Bangka Belitung, kekuatan kata-kata adalah bagaikan pedang bermata dua. Perkataan para pemimpin, di satu sisi bisa membawa manfaat, tetapi juga bisa membawa kerusakan yang dahsyat bagi rakyat.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus berkata-kata? Konsepsi dan metode berkata-kata, telah diajarkan secara gamblang oleh Allah kepada kita.

Pertama konsepsiqaulan marufa(perkataan yang baik). Perkataan baik yang mendidik, dan dapat bersifat sebagai cermin dalam tindakan masyarakat.

Kemudian konsepsiqaulan sadida(perkataan yang tegas dan benar) membawa implikasi bahwa perkataan seorang pemimpin haruslah tegas, benar dan terbebas dari pemerkosaan bahasa.

Pemimpin bukanlah seorang orator yang bisanya hanya menipu rakyat dengan kata-kata yang abstrak, ngeles, ataupun kata-kata ambigu yang membius. Tegas bukan berarti keras atau kasar, tetapi tegas membawa makna konsistensi dan keteguhan prinsip.

Selanjutnya konsepsiqaulan layyina(perkataan yang lemah lembut). Dilatar belakangi oleh kisah nabi Musa dan Harun yang diperintahkan oleh Allah untuk menghadapi Firaun dengan perkataan yang lemah lembut. Allah memberi nasehat kepada kita untuk tetap lembut, meskipun yang dihadapi adalah seorang jahil dan perusak.

Berikutnya konsepsiqaulan maisura(perkataan yang pantas). Janganlah menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan menyinggung perasaaan, meskipun itu kepada bawahan kita, kepada penerima infaq harta-harta kita, dan juga terutama kepada orang-orang yang lebih tua daripada kita.

Setelah itu konsepsiqaulan baligha(perkataan yang membekas pada jiwa), adalah ucapan berbobot yang menyentuh jiwa dan ruh para pendengarnya. Dengan menggunakan bahasa sesuai dengan kemampuan massa yang dihadapi, fasih dan jelas maknanya.

Terakhir adalah konsepsiqaulan karima(perkataan yang mulia) yaitu perkataan yang penuh adab, rasa hormat dan kasih sayang. Perkataan tidak bersifat menantang atau bahkan merendahkan pendengar.

Berangkat dari konsepsi qurani di atas, mudah-mudahaan para pemimpin dan kita semua mendapat bimbingan dari Allah SWT. Jika tidak mampu berkata baik, lebih baik diam.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam"(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Penulis

Faisal Sikumbang
Wartawan Utama
Pemimpin Redaksi KupasBerita.Com

Penulis
: Administrator
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html