Politik Tingkat Dewa

Administrator Administrator
Politik Tingkat Dewa
Agung Marsudi (baju batik coklat)
Suksesi kepemimpinan nasional 2024, sebagai mekanisme politik 5 tahunan memang harus diselenggarakan oleh pemerintah secara cermat, dan seksama.

URUSAN publik dan urusan politik memang tak bisa dipisahkan, tapi masing-masing punya etiketnya. Politik, "tidak bisa ingin apa, harus mendapat apa". Sudah menjadi kaisar ingin menjadi dewa.

Fakta, Mas Joko gak ngundang bang Surya ke istana, melahirkan istilah baru, politik "jaga jarak" yang ditengarai banyak pihak sebagai tindakan berlebihan, di meja makan saja ada aturan, masak politik gak punya tata krama.

Itulah politik tingkat dewa, kadang jurus mabuk dilakukan untuk melawan ketakutan. Nasdem, makin panas adem. Menjadi dewa politik, menjelang akhir masa jabatan memang membutuhkan doping, untuk menambah keberanian, memperkuat dukungan.

Kedaulatan rakyat yang "diangkakan", ketika di TPS kemudian direkapitulasi oleh KPU, membuktikan bahwa sejatinya rakyat tidak punya kehendak. Sebab puncaknya, yang punya hak mencalonkan pemimpin, menurut aturan adalah partai politik atau gabungan partai politik.

Partai politik dan gabungan partai politik membuahkan angka, yang menjadi ambang pencalonan. Dari titik ini persoalan bangsa dan negara "dimainkan". Biar bisa dihitung, pilihan yang semula kualitatif, lalu diangkakan.

Kemiskinan adalah angka, pengangguran adalah angka, ekonomi adalah angka, pertahanan keamanan adalah angka, kesejahteraan adalah angka, pendidikan adalah angka, proyek adalah angka, media adalah angka, relawan adalah angka, peraturan adalah angka.

Politik adalah angka. Menjadi presiden adalah angka. Angka-angka telah menjadi dewa.

Jakarta, 8 Mei 2023
Catatan Agung Marsudi
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html