Hantu Atas Nama Investasi Luluhlantakkan Negeri

Administrator Administrator
Hantu Atas Nama Investasi Luluhlantakkan Negeri
Agung Marsudi
Jangan tanyakan apa yang sudah diberikan hutan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan pada hutan. Bencana yang datang bukan semata karena hujan. Tapi akibat perbuatan hantu. Hantu atas nama investasi, berjas rapi, berdasi. Hantu yang bisa berbaju Menteri, Gubernur, Bupati, Direktur, atau Komisaris. Hantu yang punya kantor di Jakarta, rumah dan rekeningnya di Singapura.

HANTU Itu tidak takut salib, tidak takut air suci, tidak takut azan, apalagi ayat kursi, karena mereka yang menduduki kursi itu. Hantu tidak takut Tuhan.

Hantu itu muncul di hutan malam-malam, membacakan mantra sakti bernama UU Cipta Kerja, Perpres 109/2020, Permen LHK yang direvisi berkali-kali, lalu menebas pohon dengan gergaji bermerek “kepentingan nasional”.

Setelah hutan gundul, tanahnya licin, hantu itu tertawa: “Sekarang kalau banjir, kita tinggal bilang: ini bencana alam, kehendak Tuhan.”

Di tengah bencana, "truk-truk balak" masih berani mengangkut kayu gelondongan besar-besar. Untuk menyisir siapa pelaku dan penyebab, "Hentikan kegiatan pembalakan". Setidaknya moratorium. Cek ke hulu, bekas-bekas tempat penimbunan kayu mereka, dan areal tebangan mereka.

Tuhan, hantu, hutan. Bencana banjir Sumatra, hutan jelas tak bersalah. Tuhan apalagi. Tinggal hantu yang bisa disalahkan. Hantu yang kentut, ada suara, ada bau, tapi tak ada yang mengaku.

Masih ingat drama panas: "Zulhas, Sang Pemanggul Beras". Cukup sudah menjadi bangsa kuli. Apalagi Kuli Pemanggul Oligarki. Cukup sudah menjadi Rajuli, sekelas menteri. Menjadi "Raja" di medsos, tapi mental jongos.

Kan gak enak, disindir, nanti kementerian kehutanan, diubah menjadi kementerian kehantuan. Sebagai menteri, "Jangan tanyakan apa yang sudah diberikan hutan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan pada hutan".

Bagaimana mungkin seorang petinggi, seorang menteri, tidak tahu definisi apa itu "pohon". Apalagi menteri kehutanan. Tanyakan ke fakultas kehutanan UGM. Apa yang dimaksud dengan pohon (Bukan soal berdaun). Tinjau ulang THPB, teori manajemen hutan, "Tebang Habis Permudaan Buatan".

Refleksi bencana banjir Sumatra: "Tuhan, Hantu, Hutan". Tuhan disalahkan karena “hujan terlalu deras”. Hantu disalahkan karena “warga kurang sembahyang”. Hutan disalahkan karena “akarnya tidak cukup menyerap air”.

Atas nama bencana: Cabut ijin, hentikan semua kegiatan penebangan hutan atau moratorium. _"Right now or not all!"_

7 Desember 2025
Catatan

Agung Marsudi
Founder Duri Institute
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html