Catatan Agung Marsudi, Senja di Atas Pipa Jalan Sakura

Administrator Administrator
Catatan Agung Marsudi, Senja di Atas Pipa Jalan Sakura
Eben (15) sepertinya pemalu, ketika kamera mengarah padanya, ia hanya duduk sambil memandang ke arah gereja. Sementara teman-temannya asik menari, bergoyang, berlarian sambil mengatur keseimbangan.

MENJELANG matahari pulang ke peraduan, anak-anak masih bercengkrama dan berlarian di atas pipa migas, pertamina hulu rokan, tak takut pada ketinggian dan peringatan, Jum'at (28/1/2022).

Sudah berpuluh tahun, mereka berpeluh, dengan pipa-pipa emas hitam yang meliuk-liuk berpunggung bumi, berpinggang negeri. Duri, tak seperti Papua, bawah minyak, atas minyak, penduduknya tak berani berteriak.

Entah tarian apa yang hendak disuguhkan, menyambut 500 sumur yang bakal dibor lagi, berapa lifting minyak yang akan dihitung, dikalkulasi. Sementara, orang-orang mulai ektase dengan produksi, tapi puluhan anak-anak sendiri, tak mengerti dan tak diajari untuk mengerti. Dua kata yang membuatnya mendengar saja ngeri; eksplorasi dan eksploitasi.Mereka miskin di negeri petrodolar.

Senja di jalan sakura, mengingatkan 97 tahun yang lalu, ketika perusahaan minyak raksasa Amerika menyedot isi perut bumi, tak terperi. Kini anggukan ritmik pompa-pompa lufkin tua, menangisi kepergian sang majikan, yang harus pulang.

Meninggalkan hutang ekologis yang dibuang. Meninggalkan logo sersan tersisa, di pipa-pipa. Apakah kita memang sudah merdeka, bila hanya untuk bekerja, berebut jatah kapling perusahaan-perusahaan dari Jakarta.

Kalau hanya untuk jadi jongos, penjaga-penjaga pos, broker naker, makelar proyek, bangga dengan potong-potong rumput, tanggalkan baju, lupakan keahlian.Kasihan anak-anak masa depan kita. Mereka lahir di pinggir-pinggir pipa, bermain di atas pipa, menjemur baju di atas pipa, tumbuh besar, kerja ngelas pipa.

Mantan Chevron saja, belum move on. Apalagi para buruh, yang tak bisa lagi mengeluh. Tuntutan sejengkal, dengan gaji tiga koma. Diterima tiga hari, langsung koma. Bayar kredit, bayar sewa rumah, bayar hutang makan.nDan, bubur si bayi yang tak bisa, ditunda. Tiga kali sehari.

Senja di atas pipa, jalan sakura. Mengulang kembali kenangan, setengah abad yang silam. Ketika nama Air Jamban, Balai Makam, Talang Mandi, Titian Antui, membuat bulu kuduk berdiri.

Nama-nama itu kini tak lagi menakutkan, karena rasa takut telah hilang ditelan bumi.Seiring harapan yang hanya mimpi."Bangun tidur, tidur lagi!"
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html