Catatan Agung Marsudi, Indonesia Itu Bukan Cuma Merah, Tapi Merah Putih

Administrator Administrator
Catatan Agung Marsudi, Indonesia Itu Bukan Cuma Merah, Tapi Merah Putih
Agung Marsudi
Sebulan keliling di Jawa, membuat mata saya terbuka. Banyak hal di negeri ini yang masih asli, tradisi bermutu tinggi. Keaslian yang tak muncul ke permukaan, apalagi dilayarkan.

KESEDERHANAAN warga desa memahami politik patut dijadikan teladan. Mereka melihat politik dengan kacamata baca, atau kaca mata desa. Tak mengeluh, tak mengaduh. Tak sesak, tak berteriak.

"Wong urip mung nrimo ing pandum".

Mas Joko yo mung dodolan telo. Kang Slamet bakul dawet. Tak menyerah pada keadaan. Urusan politik, urusan ekonomi, urusan utang, urusan pindah ibukota, urusan BPJS, urusan 3 periode, urusan menunda pemilu, "Kabeh wis eneng sing mikir. Ra sah diowah-owah, ndak malah bubrah"

Merekapun mengerti, "kekuasaan direbut untuk bisa korupsi. Korupsi dirancang, tidak untuk dinikmati sendiri"

Merekapun tahu, sekarang yang lagi di atas angin Telomoyo, adalah politik merah, berbaju merah, buku-bukunya merah, bendera merah, meja kursi merah, pagar merah, meski rapornya merah.

"Desa mawa cara, negara mawa tata".

Di pinggir sungai, dekat jembatan, Purwokerto. Berdiri kokoh museum Soedirman, yang terdiam. Hanya bisa diam. Sejarah yang mungkin juga akan dibelokkan oleh politik kekuasaan. Politik dendam.

"Serangan Merah!"
"Serangan Umum!"

Jasnya memang merah. Jadi ingat pernyataan seorang menteri, "Kalau mau merubah sejarah, rebutlah kekuasaan. Mau mengubah hukum, rebutlah kekuasaan".

Kang Slamet yang bakul dawet berkata: "Indonesia itu merah putih. Bukan hanya merah".

Merah tanpa putih, bukan Indonesia.

Purwokerto, 6 Februari 2022
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html