Catatan Agung Marsudi, Demokrasi itu Sing Waras Ngalah...

Administrator Administrator
Catatan Agung Marsudi, Demokrasi itu Sing Waras Ngalah...
Agung Marsudi
Birokrasi di era kepak sayap oligarki ini makin unik dan makin pelik. Alam politik otoriter yang dibungkus demokrasi. Bahkan satu-satunya partai yang namanya ada demokrasi, tapi ketuanya gak ganti-ganti.

PAGAR makan tanaman, pribahasa yang pernah kita kenal dukunya. Kini justru sebaliknya, " tanaman yang makan pagar". Hampir setiap urusan yang berkaitan dengan hajat rakyat dimonetisasi, jamaknya dibisniskan.

Kebijakan diperjualbelikan seperti barang dagangan. "Negara makan rakyatnya". "No BPJS No Service". Jargon plesetan ini lahir dari rahim demokrasi Indonesia tanpa persalinan. Itulah politik kesehatan kita.

Di Warung Wedang Waras, Banyumas. Kami duduk dengan warga desa, cerita wong cilik, cerita kejujuran, kaitannya dengan pemerintahan yang mengidap sakit disorientasi.

Why do we need democracy?
Democracy helps citizens to choose their leaders to run the government.

Sesederhana ini demokrasi. Sehingga dengan enteng rakyat kecil menjawab, "sing waras ngalah".

Urusan Pemilu ditunda, 3 periode, utang menggunung, BPJS apapun itu, rakyat tetap masih waras. Tak ada yang berani bertanya, "sopo sing waras". Karena jawabannya tetap sama, "sing waras ngalah".

Urusan 2024 tak secadas kasus Wadas. Panggang Politik 4.0 sudah masak, harganya setara 24 kali angsuran bulanan utang bank plejit di pasar tradisional. Kata pembawa acara TV berita, "Indonesia lagi-lagi dihadapkan dengan ritual berulang, lonjakan harga pangan".

Banyumas, 5 Februari 2022
Penulis
: Administrator
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html