Catatan Agung Marsudi, "Harap Senang "

Administrator Administrator
Catatan Agung Marsudi, "Harap Senang "
Malam belum datang, tapi harap senang! Rabu siang (9/2/2022) untuk memastikan masih ada denyat-denyut dunia senang di Pasar Kembang.

SAYA akhirnya melangkahkan kaki, meski berat, karena kaki asam urat. Dari gang ketiga tepat di depan stasiun Tugu, saya menyusuri lorong demi lorong. Benar, walau masih siang, tercium aroma goyang dumang.

Di lurung atau lorong kedua, saya jumpa dengan laki-laki Papua, yang nampak mulai mabuk. Meracau dengan satu botol bir di tangan, berjalan sempoyongan.

Lalu mata saya tertuju pada sebuah mural eksotik di dinding, bergambar dua anak kecil, tepat di depan pintu, ruang para pelanggan, tertulis, "Harap Senang!"

Si kecil laki-laki sedang jongkok, sedang yang perempuan berdiri dengan isyarat diam, dengan jari telunjuk di mulut. Mural itu berbicara, melebihi gambarnya. Satu gambar, seribu kata. Sorot mata anak-anak itu, seperti elang, ketika pintu berganti bayang-bayang.

El (44) wanita asal Surabaya, mengaku sudah tiga tahun, bekerja melayani di lurung-lurung itu. Dia merasa nyaman beroperasi di pagi atau siang hari, dibanding kerja malam. Kalau operasi malam, kadang melayani peminat hasrat yang aneh-aneh, apalagi bukan pelanggan.

" Saya pilih siang aja, lebih santai. Musim pandemi ini memang sepi, kalau ramai satu hari bisa melayani 3-5 orang pelanggan, berharap dua lembar uang merah per orang," tambahnya dengan senyum genit, dan lendetan manja.

Mumpung sepi, saya memberi ongkos foto pada El, 50 ribu rupiah, untuk mau berpose di mural. El, dengan potongan rambut pendek, layer bob, bergaya sempurna. Jauh dari Surabaya ke Yogya, ia jujur menggantungkan hidup pada goyang dan bayang-bayang. Tak punya pilihan.

Nasibnya dititipkan pada pundak para pelanggan yang berani, tak bersembunyi, di balik bangunan dan gedung-gedung tinggi, yang menutupi daya tarik dan sensasi "lokalisasi".

Bertualang, bergoyang adalah bayangan. Potret manusia-manusia beradu stamina, dari zaman dahulu kala. Kupu-kupu malam tak mungkin bisa terbang. Sebab sayapnya sudah patah. Kumbang tak seperkasa yang dipikirkan.

Nasib, himpitan hidup, tuntutan ekonomi, kekerasan, kebodohan, kenakalan, atau pilihan, siapa yang harus menyelesaikan. Benarkah pemerintah mudah lelah, untuk urusan "beginian".

Jadi teringat Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi, prosa lirik yang eksotik. "Uang dan goyang," menipu gairah, jalannya sejarah.

Tak ada yang syariah, untuk urusan, "Ah!"


Slasar Malioboro, 9 Februari 2021
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html