Prostitusi Marak di Kos-Kosan dan Hotel Nakal di Dumai

Administrator Administrator
Prostitusi Marak di Kos-Kosan dan Hotel Nakal di Dumai
Ilustrasi

Berdiri megahnya Masjid Dumai Islamic Center sebagai ikon Kota Dumai tergerus oleh maraknya praktek maksiat serta prostitusi yang makin merajalela. Kondisi mengiris hati ini tak luput dari lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh aparat terkait. Kabarnya, sejumlah kos-kosan dan hotel nakal di Dumai turut memfasilitasi praktek haram tersebut.

PEMERINTAH Kota Dumai sepertinya belum berhasil membersihkan daerah ini dari maraknya praktek prostitusi. Malah belakangan ini, kondisinya makin menjadi-jadi. Julukan Dumai sebagai Kota Pelabuhan sering dijadikan alasan pembenaran terhadap praktek kemaksiatan.

Berdasarkan informasi serta penelusuran yang dilakukan, tidak sulit menguak prostitusi yang dilakukan secara terang benderang maupun terselubung. Termasuk yang dikenal dengan istilah prostitusi online. Mereka memanfaatkan kos-kosan maupun hotel nakal untuk beroperasi. Mereka menjaring tamu secara online, dan selanjutnya mengarahkan mangsanya (lelaki hidung belang,red) ke kos atau hotel yang mereka sewa.

Salah satu hotel di bilangan Jalan Jenderal Sudirman Dumai juga tidak luput dijadikan sebagai lokasi prostitusi. Sejumlah kamar disewa oleh wanita, baik perseorangan maupun rombongan. Mereka bergantian menggunakan kamar, tergantung siapa yang “diorder” oleh pelanggan.

Pihak hotel sendiri terkesan tutup mata dengan aktifitas yang berlangsung secara terus-menerus itu. Mereka berdalih tidak pernah memfasilitasi, dan aktifitas tamu hotel diluar kewenangan mereka.

“ Kita tak pernah memfasilitasi. Kalau soal siapa tamu mereka, kita tak punya kewenangan juga untuk melarangnya,” ungkap Humas salah satu hotel di Dumai kepada kupasberita.com.

Salah seorang sumber berinisial AM (42) mengaku kenal dengan beberapa cewek cantik yang mangkal di salah satu kamar hotel di kawasan pusat Kota Dumai.

“ Rata-rata cewek-cewek itu bukan warga asli Dumai. Namun kadang juga ada yang orang tuanya tinggal di Dumai. Para wanita panggilan itu mainnya di tempat hiburan, dan ada juga yang standby di hotel atau wisma. Selain itu ada juga yang menggunakan aplikasi dating,” ujar AM.

Tiga aplikasi dating tersebut yaitu MiChat, WeChat dan Beetalk. Dari penuturan AM, ketiga aplikasi tersebut cukup mudah diunduh di Play Store maupun App Store dan bukan aplikasi berbayar.

Sesuai penjelasan dari AM, jika ada akun perempuan yang memajang status Open BO di aplikasi tersebut, perempuan tersebut sudah bisa dipastikan adalah seorang PSK. Open BO itu sendiri adalah singkatan dari Open Booking Order. Artinya, perempuan tersebut bisa dipesan untuk melayani pelanggan.

Setelah beberapa saat berselancar mencari penyedia jasa pemuas syahwat sesuai aplikasi yang diberikan, akhirnya terhubung dengan seorang perempuan via aplikasi MiChat, sebut saja namanya Clara (bukan nama sesungguhnya).

Perempuan berusia 26 tahun tersebut mematok harga Rp400 ribu untuk Short Time (ST). Ia juga menyediakan jasa Long Time (LT) dengan harga Rp1,2 juta dan durasi waktu sekitar 5 jam. Harga tersebut sudah termasuk sewa kamar hotel.

Chating pun berlanjut via WhatsApp. Negosiasi berakhir dengan kesepakatan Clara meminta bukti foto bahwa tamu sudah benar-benar sampai di hotel tempatnya menginap.

“ Kalau sudah sampai di tangga hotel, nanti foto dan kirim ke saya ya,” ujar Clara.

Praktek prostitusi di Dumai bukan hanya dilakukan oleh seorang Clara saja. Masih banyak wanita lain yang melakukan praktek serupa. Tidak hanya mangkal di hotel maupun kos-kosan, namun juga tidak sedikit yang “bergentayangan” di tempat hiburan malam. Jika yang dikelola oleh pengusaha hiburan malam dikenal dengan istilah Ladies Companion (LC), maka mereka disebut dengan istilah freelance atau cewek cas yang tidak terikat dengan pengelola hiburan malam.

Melihat maraknya praktek prostitusi itu, pemerintah diharapkan segera melakukan pengawasan ketat serta penertiban di lapangan. Hal ini tidak hanya berdampak terhadap meningkatnya praktek kemaksiatan, namun juga bisa berakibat buruk bagi generasi muda di Dumai.

“ Kita harapkan pemerintah dan pihak terkait bisa menertibkannya. Maraknya prostitusi bisa merusak generasi anak negeri. Semoga hal ini bisa menjadi prioritas perhatian kepala daerah,” ujar Syafrizal, Ketua DPD Partai Ummat Kota Dumai.(*)

Penulis
: Mustafa Kamal
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html