Agenda hearing kasus kecelakaan kerja di Pertamina Dumai yang sebelumnya sudah dibatalkan DPRD Dumai hingga waktu yang belum ditentukan, tiba-tiba kembali dijadwalkan melalui surat nomor: 005/801/DPRD tertanggal 1 September 2025 yang ditandatangani Bahari selaku pimpinan DPRD. Hearing bakal digelar di Ruang Rapat Cempaka Lt I DPRD Dumai, Selasa (02/09/25) mulai pukul 10.00 WIB besok.
SIKAP plintat-plintut yang dipertontonkan lembaga wakil rakyat di Kota Dumai terkait kasus kecelakaan kerja di Kilang Pertamina Dumai menimbulkan beragam asumsi. Diantaranya ada dugaan "tarik-ulur" kepentingan antara dewan dengan pihak perusahaan.
" Kita baru saja kembali menerima undangan dari DPRD Dumai. Hearing kasus kecelakaan kerja di Pertamina Dumai yang batal dilaksanakan tadi pagi bakal digelar besok, Selasa tanggal 2 September 2025," ujar Ketua FAP Tekal, Ismunandar kepada Kupas Media Grup, Senin (01/09/25) sore tadi.
Ismunandar mempertanyakan sikap DPRD Dumai yang terkesan main-main dalam menyikapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Termasuk menyangkut kecelakaan kerja yang kerap terjadi di Kota Dumai.
" Ada apa dengan DPRD Dumai. Mereka kok plintat-plintut seperti itu. Sebenarnya ada apa dibalik semua ini," tanya Ismunandar.
Semula agenda hearing kasus kecelakaan kerja di Kilang Pertamina berdasarkan surat Pimpinan DPRD nomor: 005/779/DPRD tertanggal 27 Agustus 2025, dijadwalkan, Senin (01/09/25) pukul 10.00 WIB pagi tadi.
Namun tiba-tiba rencana hearing itu dibatalkan melalui surat nomor:005/789/DPRD tertanggal 29 Agustus 2025 yang ditandatangani Bahari selaku pimpinan DPRD Dumai.
Hebatnya, dalam surat tersebut juga dijelaskan kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan karena masih adanya anggota DPRD yang melaksanakan Kegiatan Reses Masa Persidangan III Tahun 2025.
Pembatalan dan penundaan hearing dengan waktu yang tidak ditentukan itu langsung mengundang reaksi dari FAP Tekal Dumai. Organisasi pekerja lokal di Dumai itu mencium adanya "aroma busuk" dibalik penundaan agenda hearing hingga waktu yang tidak bisa ditentukan tersebut.
Ketua FAP Tekal Dumai, Ismunandar meminta DPRD Dumai agar tidak menjadikan agenda hearing kasus kecelakaan kerja di Pertamina sebagai "bahan mainan". Persoalan ini menyangkut nyawa manusia dan kepastian perlindungan serta keselamatan bagi para pekerja.
" Kami ingatkan, DPRD jangan main-main. Dengan penundaan hearing hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, kita patut menduga DPRD sudah "masuk angin". Ada apa dibalik sikap kawan-kawan di dewan. Kita tunggu dalam minggu ini, jika tidak ada kepastian, kami akan turun ke jalan," tegas Ismunandar, Senin (01/09/25) tadi pagi.
Disampaikan Ismunandar, FAP Tekal sudah menyusun agenda pergerakan jika kasus kecelakaan kerja yang merenggut nyawa manusia di Kilang Pertamina tidak diusut tuntas. Apalagi sejumlah pihak terkait, termasuk Disnakertrans Riau terkesan "lemah syahwat" dalam menindaklanjuti kasus tersebut.
" Kami juga sangat kecewa dengan kinerja Disnakertrans Riau yang sepertinya kehilangan harga diri dan terindikasi sudah menjadi "boneka" PT KPI RU II Dumai. Minggu depan, kami akan gelar aksi demonstrasi di dua titik," tegas Ismunandar.
Sebelumnya disampaikan Ismunandar, FAP Tekal tidak ingin kasus kecelakaan kerja yang terjadi di Kilang Pertamina Dumai hanya dipandang sebatas musibah belaka. Adanya dugaan kelalaian sebagai penyebab hilangnya nyawa pekerja wajib menjadi perhatian serius yang mesti dicermati.
" Yang kita tekankan adalah pencegahan. Kalau sistem K3 dijalankan secara benar, kecelakaan bisa diantisipasi. Justru di situlah letak dugaan kelalaian yang harus ditelusuri,” ucapnya lantang.
Saat itu Ismunandar juga menegaskan, publik menunggu apakah DPRD Dumai benar-benar berani mengambil sikap tegas, dengan tidak menjadikan RDP hanya sebagai forum seremonial.
Selain itu juga dibutuhkan keberanian DPRD menekan Disnakertrans Riau agar mereka membuka fakta di balik kecelakaan maut dan tidak membiarkan kasus kecelakaan kerja yang menghilangkan nyawa manusia hilang dan tenggelam begitu saja.
“ Jangan sampai nyawa pekerja dipertaruhkan dan hilang sia-sia akibat kelalaian manajemen atau lemahnya pengawasan di Kilang Pertamina Dumai. Ini bukan sekadar musibah, tapi soal hak perlindungan dan kepastian keselamatan pekerja," tegas Ismunandar.(*)
Penulis
: Faisal Sikumbang