Eks Rektor Unila Marah, Disebut Pungut Infak dari Orang Kaya Yang Masuk Unila

Administrator Administrator
Eks Rektor Unila Marah, Disebut  Pungut Infak dari Orang Kaya Yang Masuk Unila

Dalam sidang lanjutan dugaan suap dan gratifikasi penerimaan calon mahasiswa baru dengan tersangka eks Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani menghadirkan saksi Kabiro Perencanaan dan Humas Unila, Budi Sutomo.

PADA saat sidang di Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Bandar Lampung ini, Karomani terlihat emosi karena tuduhan Budi yang menyebutkan Karomani memaksa orang kaya yang hendak masuk Unila untuk berinfak.

Budi mengklaim dirinya hanya berperan sebagai pemungut uang infak atas perintah Karomani. Budi mengaku berhasil mengumpulkan uang dari para orang tua mahasiswa sampai Rp2,2 miliar.

"Uang belanja itu uangnya Pak rektor. Uang itu dari mereka yang memberikan infak. Iya saya pemungutnya," kata Budi.

Karomani pun marah. Dia membantah semua kesaksian Budi yang dituduhkan kepadanya.

"Dia (Budi Sutomo) berbohong Yang Mulia, semua yang disampaikannya bohong! Tidak benar, dia harus dijadikan tersangka oleh KPK," kata Karomani dengan nada yang tinggi seperti dikutip detik.com.

Kemarahan Karomani itu lalu diredam oleh Ketua Majelis Hakim. Karomani diingatkan untuk tidak terbawa emosi dalam persidangan.

"Sabar pak, jangan emosi. Disampaikan saja apa yang menjadi keberatan saudara dalam kesaksiannya," tutur Ketua Majelis Hakim.

"Maaf saya emosi, Yang Mulia," jawabnya.

Karomani membantah pernah memaksakan para orang tua calon mahasiswa baru untuk berinfak.

Karomani justru menuding balik Budi. Dia menyebut Budi selalu menitipkan mahasiswa agar bisa masuk ke Unila.

Uang diduga diterima Karomani melalui orang kepercayaannya di Universitas Lampung, yakni mantan wakil rektor 1 Unila Heryandi, wakil rektor 2 Asep Sukohar, Budi Sutomo, dan Mualimin.

Menurutnya, Budi melakukan itu sendirian tanpa keterlibatan dirinya.

"Saya tidak pernah mengatakan orang kaya harus dipaksa berinfak terkait penitipan mahasiswa. Selanjutnya, Hampir setiap tahun dia menitipkan mahasiswa," ujarnya.

"Tidak pernah saya diperkenalkan kepada orang tua mahasiswa. Dia bermain sendiri. Nanti saya akan bongkar," imbuhnya.

Dalam sidang, Karomani didakwa menerima suap dan gratifikasi dari penerimaan mahasiswa baru senilai 6,9 miliar rupiah dan 10 ribu dolar Singapura.

Uang itu diduga didapat dari orang tua calon mahasiswa baru selama 2020 hingga 2022.(*)

Penulis
: ridha
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html