Politik Uang "Merah"

Administrator Administrator
Politik Uang "Merah"
Agung Marsudi
Karena demokrasi itu ‘votes’. Maka, cerita politik kekuasaan, tak lepas dari politik perasaan. Perasaan banyak orang (majority rules). Jika, politik kekuasaan telah merasuk dalam setiap perasaan si pemilik suara, maka kata cinta berubah menjadi militansi.

RELAWAN, mestinya berada pada kelompok ini. Faktanya di lapangan justru berbeda. Era demokrasi, relawan tumbuh subur tapi digerakkan. Relawan tapi tak rela.

Bagaimana dengan gerilyawan, atau sukarelawan. Bergerilya, secara sukarela (untuk kemenangan capres-cawapres idolanya).

Realitasnya, penikmat asupan gizi biaya politik justru para buzer, yang kerjanya berdengung seperti lebah, targetnya membuat para pemilik suara mengambang resah, hingga mudah diajak pindah (dengan uang).

Apalagi uang ‘merah’.

Uang politik, politik uang punya jalannya sendiri. Geraknya seperti jalangkung, ‘datang tak diundang, pulang tak diantar’.

Membuka pintu-pintu yang tertutup, menutup peluang orang-orang pindah pilihan. Sebab, benar-benar menyakiti perasaan. Jika memilih, tapi tak punya uang. Itulah seninya politik perasaan.

Asiknya demokrasi di negeri ini. Selalu ada sensasi, menjelang 14 Februari.

Rumah merah, kursi merah. Bendera merah, partai merah, buku-buku merah. Jas merah. Beruntung rakyat tak marah, meski pemerintah mendapat kartu merah.

Was-was, jangan-jangan ada lagi drama “cap jempol darah”.

Solo, 23 November 2023

Penulis

Agung Marsudi
Duri Institute
Penulis
: Administrator
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html