Komika Politik, Parasit yang Gesit

Administrator Administrator
Komika Politik, Parasit yang Gesit
sinarharapan.co
Salah satu bumi manusia itu bernama Jakarta. Ibukota negara. Negara Indonesia. Indonesia Raya. Napas ekonomi dan politiknya, ditandai dengan kesibukan urban mencari seribu tuhan, tuhan yang dikeluarkan dari kelas filsafat. Filsafat online. On dengan yang lain.

PODIUM bangsa dihibur para komika politik, di layar, panjang kali lebar. Kabar istana, dipenuhi "goro-goro". Perang 2024 sudah dipanasi dengan perang "kembang". Perang kembang, atau perang cakil, ia seorang raksasa yang kemudian terbunuh oleh senjatanya sendiri.

Perang kembang, belum perang sungguhan, ia simbol perang melawan hawa napsu, dengan segala pernak-pernik politik, dengan wajah urban yang terhimpit, di gang-gang sempit.

Hingga, Megawati sudah khawatir, "Nanti kalau saya udah ndak ada terus piye yo, gimana yo," ujarnya dalam sebuah Seminar Nasional Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa (FRPKB).

"Tuku bawang, kleru miri
Wis menang, jek njaluk koalisi".

Lika-liku, perilaku para elit sungguh terlalu. Rebutan ini-itu meski belum pemilu. Lahirlah "Koalisi Indonesia Bersatu". Katanya, mau buat tradisi politik baru. Katanya, di Koalisi Indonesia Bersatu, yang dikedepankan adalah politik gagasan, politik yang mengarusutamakan ide dan nilai-nilai.

Katanya, Pemilu 2024 harus dikerjakan dengan jalan politik yang lebih bermoral, tengahan, elegan. Komunikasi antar semua elemen, antar partai politik, antar elit, harus dikerjakan dengan prinsip kesetaraan, saling merangkul, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi-pribadi dan golongan.

Padahal yang tampak nyata, saat ini aroma oligarki masih menjadi patologi yang membahayakan negeri ini. Ia parasit yang gesit, menempel di elit. Melilit di kapling kuasa trias politica. Lalu menyedot sumberdaya alam, ekonomi dan politik bangsa. Tak kenal kasta, tak ramah pada Pancasila.

Seperti vampir, oligarki tak peduli golongan darah. Ia kemana-mana, ada dimana-mana. Seperti mana suka siaran niaga. Lihat saja, siapa di belakang pertandingan politik nasional, di balik proyek-proyek strategis nasional. Di darat, laut dan udara.

NKRI harga mati, dan tak pernah mati harga, sebab dijaga bayangkara negara.

Oligarki, berada di antara uang dan kuasa. Diterbangkan ambisi dan demokrasi. Menyelip diantara pasal dan ayat-ayat investasi. Berdalih atas nama pertumbuhan ekonomi.

Manusia yang berkuasa sering bermuka dasa. Pemilik sepuluh muka durjana, angkara murka. Pewaris Dasamuka.

Politik menang kalah. Rakyat kalah, rakyat terbelah. Di bumi manusia, bernama Indonesia, "oligarki apa bisa mati?"

Tanyakan pada KPU, yang terus menjadi tuan rumah pemilu, menyeleksi calon koruptor baru, dari waktu ke waktu. Ketika ditangkap KPK, di depan kamera melambaikan tangan, tak punya malu.

Agung Marsudi
Yogya, 4 Juni 2022
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html