Cawe-cawe Tahu Bukan Tempe

Administrator Administrator
Cawe-cawe Tahu Bukan Tempe
Agung Marsudi, Founder Duri Institute
_ING ngarsa sung tuladha,_ elit politik yang memberi keteladanan, yang baik, yang tidak cawe-cawe, itu ditandai dengan kearifan sikap, bahwa tahu, dirinya tahu. Tahu bahwa dirinya tak tahu.

DERAJAT pengetahuan, yang sekaligus menunjukkan kecerdasan itu tidak diwujudkan dalam bentuk "kecawe-kecawean" tetapi "ambeg parama arta", sikap dan tindakan memberi prioritas pada hal-hal yang mulia.

Elit, dalam tradisi Melayu sampailah pada yang pucuk, ia seorang batin pucuk, penghulu, yang ditinggikan seranting, didahulukan selangkah. Jauh dari kata "cawe-cawe". Keterlibatan bisa muncul jika ada masalah. Untuk menyelesaikan masalah. Cawe-cawe dalam konteks politik tentu bagian dari membuat masalah.

Pemilu 2024 adalah amanat konstitusi, dan untuk itu sudah diatur segenap regulasi dan dilengkapi perangkat yang memadai.

Munculnya "cawe-cawe" justru ditengarai menjadi bagian dari mendesain kecurangan, seperti yang dikhawatirkan banyak pihak.

Informasi terbaru, Bawaslu temukan 20 ribu lebih personel TNI/Polri masuk daftar pemilih. Selengkapnya, TMS pada daftar pemilih sementara, temuan Bawaslu: 11.457 TNI, 9.198 Polri, 5.065.265 salah TPS, 868.545 meninggal dunia, 202.776 tidak dikenal, 145.660 pindah, 94.956 tidak cukup umur, dan 78.365 bukan penduduk lokal.

"Cawe-Cawe" itu tahu, bukan tempe.

"Esuk dele, sore tempe", artinya mencla-mencle. Itulah filosofi tempe disamping "enak rasane".

Solo, 20 Juni 2023
Catatan Agung Marsudi





Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html