Catatan Agung Marsudi, Segelas Kopi Rasa Jokowi

Administrator Administrator
Catatan Agung Marsudi, Segelas Kopi Rasa Jokowi
Agung Marsudi

HARGA kopinya murah. Hanya sepuluh ribu rupiah. Kopi sanger 60 mili seduhan pak Haji, saya menyebutnya "Kopi rasa Jokowi". Karenanya saya betah berjam-jam nongki, setiap sruput kopi, terasa seperti penawar hati. Sembari mengawali hari dengan membuka akun resmi Pak Jokowi.

PAK HAJI yang saya maksud adalah pemilik Haha kopitiam jalan Kayangan, kelurahan Airjamban, Duri.

Pada kesempatan pertama, saya selalu mengikuti kabar terkini istana. Narasi tentang Indonesia.

Maklum Duri, hanya kota kecamatan, yang jauh dari ibukota Jakarta. Hanya berupa titik kecil di peta Indonesia. Meski tahun 2010, saya pernah menulis buku berjudul "Duri Tanah Air Baru Amerika" atau "Duri the New Sonland of America", sindiran tentang aktivitas Chevron yang menguras kekayaan migas kita, dan begitu besarnya kepentingan Amerika. Nyaris 100 tahun di Indonesia (Duri).

Kalau Pak Jokowi lulusan SMA 6 Solo, saya lulusan SMA 5 Solo, hanya beda tembok. Saya jadi teringat kenangan jalan Ngemplak dan Nusukan, kota Solo jaman itu.

Waktu beliau masih jadi walikota Solo, saya juga masih sering ke balai kota. Waktu beliau gubernur DKI, dua tahun pertama, saya wara-wiri di Jakarta. Di Cikini lahir antologi puisi berjudul "Jakarta Error" dan naskah buku "Anatomi Kudeta Konstitusi".

Jika Pak Jokowi alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, saya juga pernah kuliah di Fakultas Kehutanan UGM dimaksud, di Bulaksumur, Yogya. Nasibnya yang beda.

Menikmati kopi sanger pagi hari, dijamin memberi sensasi, sekaligus nutrisi. Apalagi yang dibahas kabar-kabari seputar Jokowi. Presiden Republik Indonesia, yang dikenal sederhana, dan berpenampilan biasa-biasa saja.

Pagi ini, Rabu (19/1/2022) saya memilih akun Pak Jokowi, dengan tulisan:

"Indonesia memiliki potensi besar di sektor ekonomi digital. Kita prediksi di tahun 2025, pasar digital kita akan meningkat sampai di angka USD146 miliar. Ini artinya potensinya Rp2.100 triliun.


Untuk itulah, pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur guna mendukung transformasi digital di Tanah Air. Pada tahun 2021, pemerintah telah memulai proses konstruksi satelit multifungsi, Satelit Republik Indonesia (Satria-I). Selain itu, pembangunan stasiun pemancar juga telah mulai dilakukan di ribuan desa dan kelurahan guna mendukung akses jaringan 4G.

Selain ekonomi digital, Indonesia memiliki modal besar untuk bertransformasi menuju ekonomi hijau dengan hasil produk hijau yang memiliki nilai tambah tinggi.

Potensi energi baru terbarukan kita 418 gigawatt. Besar sekali. Kita memiliki 4.400 sungai. Ini bisa jadi hydropower. Kita memiliki arus bawah laut, dua pertiga kita adalah laut. Kita memiliki potensi geotermal 29 ribu megawatt, baru dipakai 2.000 megawatt. Masih ada 27 ribu megawatt. Kita memiliki energi angin, dan sudah kita coba di Jeneponto dan Sidrap, Sulawesi Selatan, dan di Sukabumi, Jawa Barat.

Semua potensi itu menunggu sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, yang akan membawa Indonesia mampu bersaing".

Ya, kita masih menunggu SDM yang unggul, yang boleh jadi tak akan kenal dengan cangkul. Kenangan tentang kerja keras para petani menanam padi di desa-desa, yang melahirkan Indonesia.

Ya, kita masih menunggu SDM yang mampu bersaing, dengan deru mesin dan proyek-proyek drilling dan piping. Catatan tentang nasib buruh migas Duri, gaji tiga koma. Diterima tiga hari langsung koma.

Ya, saya juga lagi menunggu, seduhan kopi kedua, rasa ibukota baru bernama Nusantara.**

Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html