Adil, Makmur dan Sejahtera Sepertinya Hanya Cerita Fiksi di Lembaran Negara

Administrator Administrator
Adil, Makmur dan Sejahtera Sepertinya Hanya Cerita Fiksi di Lembaran Negara
Ilustrasi
Reformasi genap berusia 24 tahun. Seumuran anak-anak kita yang baru saja diwisuda. Tak ada catatan istimewa. Tak ada lompatan perubahan, seperti yang diharapkan sejak Pak Harto meletakkan jabatan.

SETELAH diurai, fakta obyektifnya reformasi telah mengkudeta konstitusi negaranya sendiri. Lalu muncul raja-raja baru di daerah pasca otonomi. Hasil politik prabayar, dampak regulasi pesanan oligarki.

Atas nama demokrasi, pondasi tata kelola negara diganti dengan besi ulir SNI kelas 10 mili, layaknya jumlah partai yang punya kursi di lembaga legislasi. Atas nama investasi, sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak, begitu mudah diserahkan pada korporasi.

Partai-partai berkoalisi, untuk berbagi anggaran dan kursi. Ya, Ketua Partai, ya Menteri. Menjelang pilkada, tanda tangan basah, rekomendasi pasangan calonnya berharga. Antara mahar dan mahal, jaraknya sejengkal.

Pemilu, benar-benar pesta pora demokrasi. Penyelenggara, Peserta, Pengawas, Pemilih, mabuk kepayang, politik uang.

Ini ongkos, ini coblos.

Sayang setelah 76 tahun merdeka, setelah 24 tahun reformasi, setelah 4 periode presiden, mekanisme lima tahunan itu, di DPT tak pernah tertulis ada alamat; Jalan Adil, Gang Makmur, Desa Sejahtera. "Jadi demokrasi itu untuk apa?"

Untuk sehari pesta, berapa anggaran negara dihabiskan? Apalagi mulai tahun 2024 ada pesta serentak seluruh Indonesia. "Siapa tukang cuci piring kotornya?"

Adil, Makmur, Sejahtera hanya cerita fiksi di lembaran negara. Politik devide at impera, warisan Belanda, didongengkan dari generasi ke generasi, tanpa ekspresi.

Catatan Agung Marsudi
Duri, 22 Mei 2022
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html