Komitmen Pemko Dumai dalam memprioritaskan pelayanan kesehatan yang optimal, merata, dan efektif terus diperkuat melalui koordinasi bersama Kepala Puskesmas se-Kota Dumai untuk mengatasi kendala fasilitas. Pertemuan koordinasi sekaligus silaturahmi itu dihadiri langsung Sekretaris Daerah Kota Dumai, Fahmi Rizal, Selasa (01/09/26).
SAAT Banyak daerah masih sibuk dengan seremonial, Pemerintah Kota Dumai memilih untuk bekerja di hulu. Bekerja di tempat paling menentukan nasib kesehatan warga, yakni Puskesmas.
Bukan dengan sekadar menambah anggaran di atas kertas, tapi dengan langkah paling konkret dan paling menyentuh. Yakni, koordinasi langsung bersama seluruh Kepala Puskesmas se-Kota Dumai untuk mengatasi kendala fasilitas di lapangan.
Pertemuan penting yang diinisiasi pemerintah kota melalui Sekda Fahmi Rizal itu fokus pada dua hal yang sangat fundamental dan sangat jujur.
Pertama, terkait peningkatan mutu layanan di tingkat Puskesmas agar warga yang datang ke Puskesmas merasa dilayani dengan cepat, ramah, profesional, dan tuntas. Bukan hanya diobati, tapi dipulihkan dan diedukasi.
Kedua, pendataan kekurangan fasilitas pendukung medis untuk dicarikan solusi bersama. Inilah wajah pemerintah yang transparan dan bertanggung jawab. Pemerintah yang berani mengakui kendala, lalu mengatasinya bersama-sama.
Dari koordinasi tersebut, terlihat jelas 4 prioritas dan filosofi pelayanan Pemko Dumai. Pertama, Pemko Dumai ingin memastikan pelayanan publik di bidang kesehatan tidak boleh tersendat oleh birokrasi atau alasan alat rusak.
Prinsipnya, jika warga sudah sampai di Puskesmas, maka ia harus pulang dengan solusi. Dengan koordinasi langsung, rantai birokrasi dipangkas. Masalah fasilitas tidak perlu berbulan-bulan menunggu laporan, tapi langsung direspon di meja koordinasi.
Selanjutnya adalah pelayanan merata yang tidak hanya di Kota. Dengan mengumpulkan Kepala Puskesmas dari 10 wilayah kerja se-Kota Dumai, Pemko ingin memastikan standar pelayanan yang sama.
Warga di Mundam harus dapat pelayanan seoptimal warga di pusat kota. Tidak ada warga kelas dua dalam urusan kesehatan di Kota Idaman. Semua sama, semua dilayani maksimal.
Berikutnya penguatan fasilitas tingkat pertama sebagai strategi kesehatan yang sangat cerdas dan pro-rakyat. Pemko Dumai paham, 80 persen masalah kesehatan warga seharusnya selesai di Puskesmas.
Jika Puskesmas kuat, rumah sakit tidak akan penuh sesak. Dengan memperkuat Puskesmas sebagai garda terdepan, Pemko sedang berinvestasi agar warga tidak perlu jauh-jauh dan mahal-mahal ke rumah sakit untuk sakit yang bisa dicegah dan diobati di dekat rumah.
Terakhir dengan memperkuat koordinasi langsung dengan pengelola fasilitas kesehatan tingkat pertama, Pemko Dumai menunjukkan gaya kepemimpinan yang mendengarkan.
Kepala Puskesmas adalah orang yang paling tahu denyut nadi warga. Mereka yang tahu berapa ibu hamil yang butuh USG, berapa alat tensi yang rusak, berapa stok obat yang menipis. Dengan mendengarkan mereka, Pemko memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran dan merespons kebutuhan mendesak di lapangan, bukan asumsi di atas meja.
Langkah mengumpulkan Kepala Puskesmas se-Kota Dumai ini mungkin tidak viral, tidak ada pita untuk digunting. Tapi inilah kerja pemerintahan yang sesungguhnya.
Kerja yang memastikan ketika seorang nenek di Purnama butuh cek gula darah, alatnya ada dan berfungsi. Ketika seorang ibu di Medang Kampai butuh layanan Posyandu yang berkualitas, kadernya sudah dibimtek dan fasilitasnya siap.
Inilah komitmen Pemko Dumai, dimana kesehatan bukan hanya urusan Dinas Kesehatan, tapi prioritas utama seluruh pemerintah guna memastikan tidak ada satu pun warga Kota Idaman yang tertinggal dalam mendapatkan haknya untuk hidup sehat.(inf)
Penulis
: Faisal Sikumbang