Labor Bocor, Dirut RSUD Dumai Bungkam

Administrator Administrator
Labor Bocor, Dirut RSUD Dumai Bungkam

Hujan yang mengguyur kota Dumai beberapa waktu lalu tidak saja memicu genangan air di ruang rawat inap RSUD Kota Dumai, namun juga masuk hingga ke ruangan labor yang bocor, sehingga di perkirakan sejumlah alat yang terkontaminasi oleh air tidak dapat digunakan dan memicu kemungkinan kerugian hingga ratusan juta bahkan miliaran.

Laboratorium milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Dumai memang sedari awal pembangunan ruangan sudah menuai persoalan, dimana peralatan labor sempat terabaikan akibat ruangan belum tersedia. Namun kini dengan ruangan yang ada peralatan dan obat-obatan di dalam labor tersebut masih juga belum steril diakibatkan adanya kebocoran yang menyebabkan potensi kerusakan dan kontaminasi terhadap peralatan tertentu.

Curah hujan yang cukup tinggi mengguyur kota Dumai beberapa hari lalu dikabarkan masuk hingga ke ruang labor RSUD menyebabkan sejumlah peralatan tidak bisa digunakan termasuk obat-obatan yang sudah terkontaminasi oleh air hujan dan udara luar.

Menurut beberapa sumber di RSUD, hal tersebut bukan terjadi kali ini saja, sebelumnya alat tes swab PCR juga sempat terkontaminasi akibat kebocoran ruangan labor tersebut. Sehingga, setiap pasien yang dilakukan tes mendapatkan hasil positif.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSUD Kota Dumai, DRG Ridhonaldi ketika dikonfirmasi memilih "tutup mulut" dan tidak menggubris pertanyaan dari wartawan saat dihubungi melalui sambungan seluler miliknya.

Sejumlah dokter di RSUD Dumai dcoba dikonfirmasi juga enggan memberikan jawaban terkait hal itu. Menurut mereka di RSUD seluruh informasi yang diberikan melalui satu pintu yakni humas dan itu sudah ada persetujuan dari Direktur Utama. Hingga berita ini di muat belum ada keterangan resmi dari RSUD Dumai terkait kebocoran ruang labor tersebut.

Akibat terkontaminasi, dinilai RSUD bisa mengalami kerugian hingga miliaran rupiah dari kerusakan alat dan obat yang sudah tidak bisa digunakan karena sudah terineksi oleh udara dan air hujan sehingga tidak steril lagi.

Direktur RSUD Dumai bukan sekali ini saja memilih bungkam ketika dikonfirmasi terkait permasalahan di Rumah Sakit kebanggaan masyarakat Dumai tersebut. Sebelumnya, terkait persoalan pelayanan yang buruk akibat tidak tersedianya obat di apotik rumah sakit memicu kmplain dari para pasien peserta BPJS. Dimana mereka seharusnya mendapatkan fasilitas obat dari RSUD namun kareta stok obat kosong maka mereka harus membeli di apotik luar.

Keluhan tersebut tersebar luas di akun medsos facebook, postingan keluhan dari pasien peserta BPJS mendapat respon dari berbagai netizen yang pernah mengalami hal yang sama. Ternayata persoalan stok obat kosong tersebut sudah terjadi sejak lama, namun belum terselesaikan hingga saat ini.

Sebagaimana diungkapkan pemilik akun, @Ghofur mengisahkan saat orang tuanya dirawat tidak mendapatkan stok obat dari RSUD hingga harus membeli keluar hingga almarhum ayahnya meninggal dunia."Umah sakit gratis obatnyo jiko obatnyo tidak ado di apotik umah sakit beli di apotik luwo umah sakit, Itulah yang kami rasokan sampai almarhum orang tuo kami meninggal," tulisnya di kanal komentar facebook beberapa pekan lalu.

Keluhan terhadap RSUD tidak terlepas dari pengelolaan managemen dan perangkat pemerintah yang notabene sebagai pelayanan untuk masyarakat. Sehingga Walikota terkena imbas dari kekesalan para keluarga pasien tersebut."Buat yang mengeluh dengan BPJS dan juga pelayanan RSUD minta sama walikota Dumai terpilih itu, minta janji-janjinya pada saat pilkada. Walikota Dumai pernah menjabat di Dinas Kesehatan, kemana tanggung jawab walikota Dumai itu, kok dibiarkan," ujar pemilik akun @Andre menyambut komentar warganet lainnya.

Humas management RSUD Kota Dumai Teguh sebelumnya dimedia mengatakan, bahwa menurut keterangan Kabid Keuangan RSUD penyebab kekosongan obat untuk pasien peserta BPJS Kesehatan adalah karena ketersediaan keuangan kas RSUD lagi susah, diakibatkan biaya untuk pasien Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI belum turun.

"Karena dana dari Kemenkes RI belum turun, maka kebijakan yang diambil management RSUD untuk memakai dana yang sudah dibayar oleh pihak BPJS Kota Dumai membeli obat-obatan bagi pasien Covid-19," ucap Teguh.***

Penulis
: Megi Alfajrin

Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers kupasberita.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online www.kupasberita.com Hubungi kami: redaksi@kupasberita.com
Berita Terkait
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html