Catatan Irvan Nasir, Ciagek Diganti Imlek, Indahnya Toleran dan Kebersamaan

Administrator Administrator
Catatan Irvan Nasir, Ciagek Diganti Imlek, Indahnya Toleran dan Kebersamaan
Ilustrasi
Dulu, di tahun 70 hingga 80-an, kami di Selatpanjang cuma mengenal istilah CiaGek sebagai Hari Raya teman-teman masyarakat TiongHoa. Baru belakangan setelah di era reformasi, Gus Dur menjadikan Hari Raya Imlek menjadi hari libur nasional. Istilah Imlek pun pelan-pelan menggantikan CiaGek.

CIAGEK dalam dialek Hokkian yang banyak di lafazkan etnis Tionghoa di Selatpanjang konon berarti Bulan Perayaan. Di beberapa tempat ada yang menyebutnya Sin-chia.

Kebetulan rumah orang tua saya di Selatpanjang, persisnya di Lorong Pisang, berada di tengah komunitas masyarakat Tionghoa. Sehingga sedari bocah, perayaan Cia Gek alias Imlek ini termasuk perayaan yang ditunggu selain Idul Fitri.

Main mercon alias petasan plus kembang api adalah hingar bingar yang turut menyemarakkan Cia-Gek. Namun tidak sedahsyat sekarang. Dentuman merconnya sudah sangat mengganggu.

Saat CiaGek kami turut merayakan dengan meriah. Para tetangga Tionghoa mengirimkan makanan ke rumah kami. Mulai dari permen, kuaci, kacang-an dan semacam manisan yg disebut buah kana. Sampai sekarang saya tak tahu, buah apa sebenarnya buah kana ini.

Begitu juga sebaliknya, pada saat Idulfitri emaknya saya mengirimkan juadah dan kuih-muih kepada tetangga-tetangga Tionghoa kami. Pak boss Arthur Brown, senior saya di Lorong Pisang tahu betul tentang hal itu.

Tradisi saling berkunjung ini, bukan untuk kami yang kanak-kanak saja, juga berlaku kepada orang-orang tua. Toleransi antar suku dan golongan di Selatpanjang, yang saat ini menjadi Ibu Kota Kabupaten Meranti sudah berbancuh sejak lama, dan nyaris sudah mendarah daging.

Yang menarik tentunya angpao.

Pada saat CiaGek, mendapat angpao alias amplop merah berisi uang dari tetangga dan teman-teman ayah saya, bukan hal yg aneh. Saya termasuk yang selalu mendapat angpao ini. Mulai dari kecil, sampai SD bahkan hingga dengan SMA, mengunjungi rumah teman-teman sekolah yang merayakan Imlek adalah hal yg lazim. Bahkan mendapat izin khusus dari guru.

Bukan rahasia lagi, pulang dari ber 'Cia-Gek' ria, saku kami penuh berisi permen, coklat, kwaci dan semacamnya. Tidak jarang, kembali ke sekolah, semua hasil 'jarahan' tersebut dikumpulkan di atas meja untuk dinikmati bersama. Sayangnya waktu tidak bisa diputar ulang.

Satu lagi, saat Cia-Gek nyaris seperti fashion show. Amoy-amoy berseliweran dengan dandanan menor dan mengusik mata. Untuk bab yang ini tak perlulah dijelaskan panjang dan detil, karena bisa menjadi bola liar.

"Gong Xi Fa Cai, Hibang Take Huat Tua Cai, Na U Hokkhi Angpao Ce Ge Lai" (dalam bahasa hokkian yang berarti Selamat berbahagia dan sejahtera, semoga Anda semua mendapat rezeki banyak dan kalau ada hoki berikanlah angpao satu buat saya)

Haiyaaaa.....
Penulis
: Administrator
Editor
: Faisal Sikumbang
Komentar
Berita Terkini
google-site-verification: google0644c8c3f5983d55.html