PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai terus memperkuat upaya dalam menjaga keandalan operasional kilang sebagai bentuk komitmen dalam menjaga ketahanan energi nasional. Langkah konkret tersebut salah satunya dilakukan dengan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) lewat optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 3,77 MWp sebagai sumber energi pendukung sistem kelistrikan operasi.
LISTRIK Adalah urat nadi kilang. Dengan optimalisasi PLTS 3,77 MWp, Pertamina memastikan MCR berjalan realtime dan presisi, Process Safety dan Occupational Safety optimal, produksi dan distribusi energi ke masyarakat tidak terganggu.
Ini adalah kilang sebagai objek vital nasional yang dijaga dengan sistem kelistrikan ganda, STG dan matahari. 3,77 MWp, bukan angka yang kecil untuk sebuah kilang yang biasanya bergantung pada Steam Turbine Generator (STG).
Ketika banyak perusahaan baru bicara tentang transisi energi, Kilang Dumai sudah melakukannya sejak Tahun 2019. Pertamina membangun 2 fase, 3 lokasi, 3,77 MWp, puncak 3,4 MWp, 500 kW harian, 1,6 persen base load, dan menekan konsumsi bahan bakar pembangkit internal. Ini adalah aksi nyata ESG dan dekarbonisasi, bukan greenwashing.
18.319,99 ton CO2 eq/tahun dikurangi sebagai warisan untuk anak cucu Dumai. Kilang Dumai membuktikan kilang minyak bisa jadi kilang matahari. Bisa hasilkan BBM untuk Sumatera, sekaligus hasilkan listrik bersih dari matahari Dumai. Menjaga energi negeri, dan menjaga bumi dalam satu tarikan napas.
Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai memiliki tiga PLTS yang tersebar di tiga lokasi berbeda. PLTS berkapasitas PLTS 2 MWp berada di Jalan Raya Bukit Datuk, menjadi PLTS pertama yang dibangun di lingkungan Kilang Dumai. Ada di jalan utama, terlihat oleh masyarakat Dumai, bahwa kilang ini serius dengan energi hijau.
Selanjutnya, PLTS 1 MWp terletak di Komplek Fire Camp Pertamina Dumai dan PLTS 0,77 MWp di kawasan Komplek Rumah Dinas Perusahaan (RDP) Bukit Datuk.
Dari seluruh total kapasitas PLTS yang telah terpasang, setiap harinya produksi listrik yang dihasilkan memiliki daya efektif rata-rata harian sekitar 500 kW dengan daya puncak hingga 3.4 MWp. Pemanfaatan listrik tenaga surya tersebut berkontribusi memenuhi kebutuhan listrik sekitar 1,6 persen dari base load karena regulasi intermittent masuk ke microgrid Kilang Dumai.
Di dunia kilang yang base load-nya raksasa, 1,6 persen dari energi matahari yang gratis dari langit Dumai itu sangat berarti. Itu 500 kW yang tidak perlu dibakar dari bahan bakar fosil. Itu penghematan, itu efisiensi.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum mengatakan bahwa keandalan sistem utilitas, termasuk pasokan listrik, merupakan elemen yang tidak terpisahkan dalam menjaga keberlangsungan operasi kilang sebagai objek vital nasional dalam menjaga pasokan energi.
“ Pemanfaatan PLTS menjadi bagian dari langkah strategis Perusahaan dalam memperkuat sistem kelistrikan untuk terus menjaga keandalan operasi. Inisiatif ini sekaligus mendorong pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen Pertamina dalam upaya dekarbonisasi di seluruh lini bisnis dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060,” ujar Muhammad Rum, Selasa (06/10/26).
Meski listrik yang terpenuhi saat ini hanya 1,6 persen, Muhammad Rum mengungkapkan bahwa keberadaan PLTS tetap memberikan manfaat dalam meningkatkan efisiensi energi di operasional. Pemanfaatan listrik dari PLTS tersebut turut mengurangi beban pembangkit internal sehingga konsumsi bahan bakar untuk pembangkitan listrik dapat ditekan.
Pembangunan PLTS Kilang Dumai merupakan bagian dari Program Substitusi Listrik RDP Bukit Datuk ke jaringan PLN yang mulai dijalankan sejak 2019. Program tersebut bertujuan menurunkan beban listrik yang sebelumnya diproduksi oleh Steam Turbine Generator (STG) kilang melalui integrasi sistem kelistrikan kawasan RDP Bukit Datuk dengan jaringan PLN.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari implementasi komitmen Pertamina terhadap aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) yang saat ini menjadi standar perusahaan kelas dunia. Hal itu sejalan dengan agenda transisi energi. Pertamina Kilang Dumai tidak hanya jaga lingkungan dengan PLTS, tapi juga tunjukkan tata kelola yang baik dan tanggung jawab sosial.
Perjalanan Panjang 3,77 MWp
Pembangunan PLTS yang beroperasi Kilang Dumai dibangun dalam dua fase. Pembangunan fase pertama dimulai dengan pembangunan PLTS kapasitas 2 MWp di Jalan Raya Bukit Datuk.
Selanjutnya fase kedua yaitu PLTS 0,77 MWp di Jalan Cirebon Bukit Datuk dan PLTS PSA Fire camp Pertamina RU II Dumai dengan kapasitas 1 MWp.
Keseluruhannya itu telah memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) pada 19 Februari 2024.
PLTS Kilang Pertamina Dumai yang diresmikan oleh Direktur Operasi PT Pertamina Patra Niaga, Didik Bahagia tersebut merupakan hasil sinergi antar entitas di Pertamina, yakni dengan Pertamina Power Indonesia (PPI).
Selain memperkuat sistem kelistrikan dan mendukung operasional, kehadiran PLTS Kilang Dumai tersebut turut berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon hingga 18.319,99 ton CO2 eq /tahun.
Angka di atas setara dengan menanam ratusan ribu pohon. Atau setara dengan mengurangi ribuan mobil di jalan Dumai-Pekanbaru. Itu kontribusi nyata Kilang Dumai untuk udara Dumai yang lebih bersih, untuk langit Riau yang lebih biru, dan untuk komitmen Indonesia NZE 2060.(*)
Penulis
: Faisal Sikumbang